MEWUJUDKAN KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA
MAKALAH
Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Seminar Pendidikan Agama Islam.
Dosen:
Dra. Titing Rohayati, M.Pd.
Disusun Oleh :
Ayu Wahyuningsih 1103771
Meti Rahmawati 1102353
Wulan Oktaviani 1105741
Kelompok 9
5 B
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KAMPUS CIBIRU
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami telah mampu menyelesaikan makalah berjudul “Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama”. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Belajar dan Pembelajaran PAUD.
Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak terima kasih kepada:
1. Ibu Dra. Titing Rohayati, M.Pd selaku dosen mata kuliah yang telah membantu penulis selama menyusun makalah ini;
2. rekan-rekan seangkatan yang telah memotivasi penulis untuk menyelesaikan penyusunan makalah ini;
3. semua pihak yang tidak bisa penulis sebut satu per satu.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin.
Bandung, September 2013
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Penulisan Makalah 3
D. ManfaatPenulisanMakalah 3
E. Prosedur Penulisan Makalah 3
BAB II KAJIAN TEORI
A. Definisi Kerukunan 4
B. Pengertian Antar Umat Beragama Mernurut Islam 4
C. Kerja Sama Antar Umat Beragama 6
D. Devinisi Toleransi 8
BAB III PEMBAHASAN
A. Kendala Yang Dihadapai Dalam Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama 11
B. Sikap Toleransi Beragama Di Tengah Masyarakat Yang Beragam 15
C. Solusi Untuk Memecahkan Kendala Dalam Meujudkan Kerukunan Beragama 19
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan 23
B. Saran 23
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di Dunia ini terdapat banyak wilayah atau daerah yang didalamnya terdapat banyak keragaman atau prularisme, dimana keragaman kelompok masyarakat yang berbeda adat, budaya dan agama berada dalam satu wilayah. Adanya keragaman tersebut tentunya menuntut masyarakat dimanapun untuk mampu bertoleransi terhadap keragaman atau perbedaan agar terciptanya keharmonisan atau kerukunan. Namun, salah satu aspek keragaman tersebut saat ini menjadi hal yang mengkhawatirkan karena konflik yang terjadi didalamnya. Aspek tersebut adalah aspek agama. Konflik-konflik terjadi akibat adanya perseteruan yang melebar sehingga menyangkut aspek agama atau konflik yang murni terjadi dengan mengatasnamakan agama.
Agama adalah suatu keyakinan seseorang dan sebagai sesuatu yang mendasari kehidupan umat manusia. Agama menjadi pegangan hidup dan sebagai tolak ukur manusia dalam menjalalni hidupnya. Namun, agama pada era modernisasi ini sering ada pada posisi yang tidak tepat. Seringnya agama dikaitkan dengan masalah yang terjadi pada kalangan tertentu dan juga dikaitkan dengan kata jihad untuk melawan kalangan tertentu dalam memberantas kalangan berbeda paham. Agama seperti dikambing hitamkan dengan mengatasnamakan agama untuk mancapai tujuan tertentu. Sehigga timbullah permasalahan hubungan antar umat beragama. Terjadinya perpecahan yang tidak hanya dapat menguras air mata tapi juga pada akhirnya meliputi pertumpahan darah. Semua hal tersebut tentunya menjadi suatu kekhawatiran yang nyata bagi seluruh umat beragama di dunia. Bukankah didunia ini kita inginkan kerukunan dan keharmonisan?
Tidak dipungkiri terkadang perbedaan pandangan dan pemahaman merupakan suatu persoalan yang mendasar dan pokok yang menjadikan permasalahan atau sebuah konflik itu terjadi dan melebar sehingga memecahbelahkan ukhuwah antar umat. Akan tetapi pada dasarnya perbedaan pemahaman dan pandangan adalah sesuatu yang wajar dan manusiawi dan sebagai konsekuensi kemanusiaan bahkan dipandang sebagai dinamika yang akan menjadi rahmat bagi seluruh umat Islam.
Allah SWT. Telah menjelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat, 49:10.
Artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.
Pada ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara seperti hubungan persaudaraan antara orang-orang seketurunan karena sama-sama menganut unsur keimanan yang sama dan kekal. Seiring dengan hal tersebut umat manusia dituntut untuk dapat memecahkan permasalahan yang ada dengan merekatkan perbedaan melalui sikap saling toleransi beragama demi terciptanya kerukunan dan keharmonisan. Perbedaan tidak harus dipermaslahkan melainkan harus disikapi secara arif, sepanjang perbedaan itu berdasarkan argumentasi yang benar dan merujuk kepada sumber yang sama.
Berkenaan dengan urgensi di atas, perlu disusun sebuah makalah yang mampu menjadi wahana bagi kita untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan untuk menjadi tolak ukur bagi kita dalam bersikap baik itu secara teoritis maupun secara praktis. Oleh sebab itu penyusun menyusun sebuah makalah yang bertajuk “Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulisan merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
a. Kendala apa yang dihadapai dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama?
b. Bagaimana mengembangkan sikap toleransi beragama di tengah masyarakat yang beragam?
c. Bagaimana solusi untuk memecahkan kendala dalam meujudkan kerukunan beragama?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
a. Mengetahui kendala yang dihadapai dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama;
b. Memahami sikap toleransi beragama di tengah masyarakat yang beragam;
c. Mengetahui solusi untuk memecahkan kendala dalam meujudkan kerukunan beragama.
D. Manfaat Penulisan Makalah
Makalah disusun dengan harapan memberikan keguanaan baik secara teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis makalah ini berguna sebagai penambah wawasan mengenai sikap toleransi dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
1. Penulis, sebagai penambah pengetahuan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan upaya mewujudkan kerukunan antar umat beragama;
2. Pembaca, sebagai media informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan upaya mewujudkan kerukunan antar umat beragama.
E. Prosedur Penulian Makalah
Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Adapun metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Dimana penulis menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan komprehensif. Data teoritis dikumpulkan dengan menggunakan teknik studi pustaka yaitu penulis mengambil data melalui kegiatan membaca dari berbagai literatur yang sesuai dengan tema makalah. Kemudian data tersebut diolah dengan teknik analisis isi dengan melakukan kegiatan pengeksposisian data serta menerapkan data tersebut dalam konteks tema makalah.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Definisi kerukunan
Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”. Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) Bila pemaknaan tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat
Kamus Besar Indonesia mengemukakan bahwa “Kerukunan berasal dari kata ruku, bahasa Arab, artinya tiang atau tiang-tiang yang menopang rumah, penopang yang memberi kedamain dan kesejahteraan kepada penghuninya”. secara luas bermakna adanya suasana persaudaraan dan kebersamaan antar semua orang walaupun mereka berbeda secara suku, agama, ras, dan golongan. Kerukunan juga bisa bermakna suatu proses untuk menjadi rukun karena sebelumnya ada ketidakrukunan; serta kemampuan dan kemauan untuk hidup berdampingan dan bersama dengan damai serta tenteram.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kerukunan itu adalah satu tata pikir atau sikap hidup (thalent attitude) yang menunjukkan kesabaran dan kelapangan dada menghadapi pikiran-pikiran, pendapat-pendapat, dan pendirian orang. Dalam istilah agama islam,kerukunan itu dinamakan tasamuh, yaitu membiarkan secara sadar terhadap pikiran atau pendapat orang lain. Orang yang demikian dinamakan toleran.
Sehingga kerukunan umat beragama yaitu hubungan sesama umat beragama yang dilandasi dengan toleransi, saling pengertian, saling menghormati, saling menghargai dalam kesetaraan pengamalan ajaran agamanya dan kerja sama dalam kehidupan masyarakat dan bernegara.
B. Pengertian Antar Umat Beragama Mernurut Islam
Kerukunan umat beragama dalam islam yakni Ukhuwah Islamiah. Ukhuah islamiah berasl dari kata dasar “Akhu” yang berarti saudara, teman, sahabat, Kata “Ukhuwah” sebagai kata jadian dan mempunyai pengertian atau menjadi kata benda abstrak persaudaraan, persahabatan, dan dapat pula berarti pergaulan. Sedangkan Islaiyah berasal dari kata Islam yang dalam hal ini menjadi atau memberi sifat Ukhuwah, sehingga jika dipadukan antara kata Ukhuwah dan Islamiyah akan berarti persaudaraan islam atau pergaulan menurut islam.
Dapat dikatakan bahwa pengertian Ukhuah Islamiyah adalah gambaran tentang hubungan antara orang-orang islam sebagai satu persaudaraan, dimana antara yang satu dengan yang lain seakan akan berada dalam satu ikatan. Ada hadits yang mengatakan bahwa hubungan persahabatan antara sesame islam dalam menjamin Ukhuwah Islamuah yang berarti bahwa antara umat islam itu laksana satu tubuh, apabila sakit salah satu anggota badan itu, maka seluruh badan akan merasakan sakitnya. Dikatakan juga bahwa umat muslim itu bagaikan sutu bangunan yang saling menunjang satu sama lain. Pelaksanaan Ukhuwah Islamiyah menjadi actual, bila dihubungkan dengan masalah solidaritas social. Bagi umat Islam, Ukhuwah Islamiyah adalah suatu yang masyru’ artinya diperintahkan oleh agama. Kata persatuan, kesatuan, dan solidaritas akan terasa lebih tinggi bobotnya bila disebut dengan Ukhuwah. Apabila bila kata Ukhuwah dirangkaikan dengan kata Islamiyah, maka ia akan menggambarkan satu bentuk dasar yakni Persaudaraan Islam merupakan potensi yang obyektif.
Ibadah seperti zakat, sedekah, dan lain-lain mempunyai hubungan konseptual dengan cita ukhuwah islamiyah. Ukhuwah islamiyah itu sendiri bukanlah tujuan, Ukhuwah Islamiyah adalah kesatuan yang menjelmakan kerukunan hidup umat dan bangsa, juga untuk kemajuan agama, Negara, dan kemanusiaan. Allah berfirman dalam surat Ali’imran ayat 103:
Artinya:”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
Dan di perkuat lagi dalam ayat berikutnya yaitu:
Artinya: “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”.
Manusia ditakdirkan Allah Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dan interaksi sosial dengan sesama manusia. Sebagai makhluk social, manusia memerlukan kerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan material maupun spiritual. Ajaran Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan tolong menolong (ta’awun) dengan sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan umat Islam dapat berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan ras, bangsa, dan agama.
C. Kerja Sama Antar Umat Beragama
Memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat tidak selalu hanya dapat diharapkan dalam kalangan masyarakat muslim. Islam dapat diaplikasikan dalam masyarakat manapun, sebab secara esensial ia merupakan nilai yang bersifat universal. Kendatipun dapat dipahami bahwa Islam yang hakiki hanya dirujukkan kepada konsep al-quran dan As-sunnah, tetapi dampak sosial yanag lahirdari pelaksanaan ajaran isalam secara konsekwen dapat dirasakan oleh manusia secara keseluruhan.
Demikian pula pada tataran yang lebih luas, yaitu kehidupan antar bangsa,nilai-nilai ajaran Islam menjadi sangat relevan untuk dilaksanakan guna menyatukan umat manusia dalam suatu kesatuan kkebenaran dan keadilan. Dominasi salah satu etnis atau negara merupakan pengingkaran terhadap makna Islam, sebab ia hanya setia pada nilai kebenaran dan keadilan yang bersifat universal. Universalisme Islam dapat dibuktikan anatara lain dari segi, dan sosiologo. Dari segi agama, ajaran Islam menunjukkan universalisme dengan doktrin monoteisme dan prinsip kesatuan alamnya. Selain itu tiap manusia, tanpa perbedaan diminta untuk bersama-sama menerima satu dogma yang sederhana dan dengan itu ia termasuk ke dalam suatu masyarakat yang homogen hanya dengan tindakan yang sangat mudah ,yakni membaca syahadat. Jika ia tidak ingin masuk Islam, tidak ada paksaan dan dalam bidang sosial ia tetap diterima dan menikmati segala macam hak kecuali yang merugikan umat Islam.
Ditinjau dari segi sosiologi, universalisme Islam ditampakkan bahwa wahyu ditujukan kepada semua manusia agar mereka menganut agama islam, dan dalam tingkat yang lain ditujukan kepada umat Islam secara khusus untuk menunjukan peraturan-peraturan yang harus mereka ikuti. Karena itu maka pembentukan masyarakat yang terpisah merupakan suatu akibat wajar dari ajaran Al-Qur’an tanpa mengurangi universalisme Islam. Melihat Universalisme Islam di atas tampak bahwa esensi ajaran Islam terletak pada penghargaan kepada kemanusiaan secara univarsal yang berpihak kepada kebenaran, kebaikan, dan keadilan dengan mengedepankan kedamaian. menghindari pertentangan dan perselisian, baik ke dalam intern umat Islam maupun ke luar. Dengan demikian tampak bahwa nilai-nilai ajaran Islam menjadi dasar bagi hubungan antar umat manusia secara universal dengan tidak mengenal suku,bangsa dan agama. Hubungan antara muslim dengan penganut agama lain tidak dilarang oleh syariat Islam, kecuali bekerja sama dalam persoalan aqidah dan ibadah. Kedua persoalan tersebut merupakan hak intern umat Islam yang tidak boleh dicamputi pihak lain, tetapi aspek sosial kemasyarakatan dapat bersatu dalam kerja samayang baik.
Kerja sama antar umat bergama merupakan bagian dari hubungan sosial anatar manusia yang tidak dilarang dalam ajaran Islam. Hubungan dan kerja sama ydalam bidang-bidang ekonomi, politik, maupun budaya tidak dilarang, bahkan dianjurkan sepanjang berada dalam ruang lingkup kebaikan.
D. Devinisi Toleransi
Toleransi adalah suatu sikap atau perilaku manusia di mana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan. Secara sederhana sikap toleransi ini adalah Sikap yang sangat perlu dikembangkan karena manusia adalah makhluk sosial dan akan menciptakan adanya kerukunan hidup. Berikut ada beberapa pengertian mengenai toleransi menurut beberapa literatur.
Wikipedia (7 April 2011) menuliskan bahwa “Toleransi adalah istilah dalam konteks sosial, budaya dan agama yang berarti sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah toleransi beragama, dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya. Istilah toleransi juga digunakan dengan menggunakan definisi "kelompok" yang lebih luas, misalnya partai politik, orientasi seksual, dan lain-lain. Hingga saat ini masih banyak kontroversi dan kritik mengenai prinsip-prinsip toleransi, baik dari kaum liberal maupun konservatif. Dari devinisi ini, jelaslah bahwa arti dari toleransi itu adalah mengenai menghargai orang lain baik itu dari kegiatan ataupun pendapat yang di kemukakan”.
Sejalan dengan hal di atas Dr. Harun nasution (24 september 2013) mengemukakan bahwa “ secara istilah, kata toleransi memiliki makna menahan perasaan tanpa disertai protes. Artinya, seseorang tidak memiliki hak protes atas argumen orang lain, walaupun itu adalah pendapat yang salah dalam keyakinan”. Selain itu Dr. Harun nasution mengemukakan pandangannya mengenai “toleransi dalam pandangan islam yaitu dengan istilah tasamuh. Tasamuh ini memiliki arti tasahul berarti kemudahan. Artinya, islam memberikan kemudahan bagi siapa saja dalam menjalankan apa yang dia yakini sesuai dengan ajaran masing-masing tanpa adanya suatu tekanan dan sama sekali tidak mengusik ketauhidan atau keyakinan seseorang”. Dan Dr. Harun nasution mengemukakan bahwa “mencoba melihat kebenaran yang ada di luar agama lain. Artinya, kebenaran tidak hanya ada dalam islam, tapi kebenaran juga ada dalam agama selain islam. Selain itu toleransi berarti cara membina rasa persaudaraan satu Tuhan”.
Adapun pendapat lain yang mendefinisikan Toleransi adalah Dr.Yusup Al-Qaradhawi dalam karyanya yang berjudul Ghairal Muslimin Fil Mujtama Il Islami yang mengemukakan bahwa “ konsep tasamuh sebagai suatu keyakinan terhadap kemuliaan manusia, apa pun agamanya, kebangsaannya, dan kerukunannya. Selain itu, tasamuh pun berarti keyakinan bahwa Allah SWT memerintahkan untuk berbuat adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia walaupun kepada orang musyrik”.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Toleransi pada dasarnya adalah suatu sikap yang harus dimiliki oleh manusia guna menghargai keberadaan orang lain baik itru dalam kondisi keyakinannya yang berbeda, kebudayaannya maupun kebisaannya. Sejalan dengan hal tersebut sikap toleransi ini sangatlah di butuhkan untuk menjaga hubungan baik antar sesama demi terciptanya persahabatan, persaudaraan, dan persatuan antar masyarakat yang berbeda. dengan Sikap toleransi juga dapat memberikan peluang terhadap adanya dialog antar individu yang memiliki perbedaan pemahaman untuk menemukan persamaan. Persamaan disini seperti persamaan prinsip, diantaranya mengenai konsep penyembahan terhadap tuhan yang sama. Dan hal ini sesuai dengan firman Allah SWTdalam surat Ali-Imran ayat 64:
Artinya: katakanlah: “ hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kami sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah dari (kepada Allah).”
Selain itu mengenai toleransi ini dipertegas dalam firman Allah surat Yunus ayat 40-41 yang berbunyi:
Artinya: “Diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al-Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan”.
C.
D.
Artinya: jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu terlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun terlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.
Allah SWT telah menurunkan Al-Qur`an sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, namun tidak semua orang dapat menerimanya, dalam surat yunus ayat 40 pun telah jelas Allah menerangkan bahwa Allah maha mengetahui mana yang mengimani Al-Qur`an dan mana yang tidak mengimani. Oleh sebab itu Allah menciptakan manusia dengan berbagai suku bangsa karena dengan pewrbedaan tersebut diperuntukan untuk manusia dapat saling mengenal dan juga saling memahami satu sama lain namun pada kenyataannya masih sering kali terjadi pertikaian yang disebabkan oleh perbedaan sikap dan pendapat.Oleh sebab itulah kita di tuntut untuk dapat memahami sikap toleransi agar dapat dijadikan sebagai pedoman hidup dalam berhubungan dengan orang lain.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Kendala-Kendala Yang Dihadapai Dalam Mewujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama
Dalam mewujudkan cita-cita luhur untuk mewujudkan kerukunan umat bergama kita dihadapkan dengan berbagai kendala-kendala yang menjdikan harapan tersebut susah untuk terwujud. Adapun kendala-kendala yang dihadapi dalam mewujudkan hal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Rendahnya Sikap Toleransi
Toleransi mengandung arti sikap saling menghargai, sikap yang pro kerukunan dan kontra pada perpecahan. Toleransi terhadap agama – agama bukan berarti manyakini, apalagi mengikuti ajaran agama – agama tersebut. Hal tersebut dikarenakan tiap agama mempunyai pegangan dan keyakinan masing-masing. Masing-masing pihak tidak usah saling memaksa untuk mengikuti kehendak masing-masing. Pada pada era modern ini masyarakat belum sepenuhnya pemikirannya ikut modern dengan lebih bisa menghargai perbedaan. Sebagian orang menganggap bahwa agama adalah urusan pribadi dengan Tuhannya. Namun, kesalahpahaman sering terjadi disini. Yaitu bahwa masyarakat menganggap bentuk toleransi yang sebisanya di aplikasikan yaitu dengan sikap cuek atau acuh tak acuh, seperti yang tidak mau tahu. Sikap seperti ini menurut beberapa ahli mengarah pada sikap toleransi malas-malasan.
Menurut Dr. Ali Masrur, M.Ag, salah satu masalah dalam komunikasi antar agama sekarang ini adalah munculnya sikap toleransi malas-malasan (lazy tolerance) sebagaimana diungkapkan P. Knitter. Sikap ini muncul sebagai akibat dari pola perjumpaan tak langsung (indirect encounter) antar agama, khususnya menyangkut persoalan teologi yang sensitif. Sehingga kalangan umat beragama merasa enggan mendiskusikan masalah-masalah keimanan. Tentu saja, dialog yang lebih mendalam tidak terjadi, karena baik pihak yang berbeda keyakinan/agama sama-sama menjaga jarak satu sama lain.
Masing-masing agama mengakui kebenaran agama lain, tetapi kemudian membiarkan satu sama lain bertindak dengan cara yang memuaskan masing-masing pihak. Yang terjadi hanyalah perjumpaan tak langsung, bukan perjumpaan sesungguhnya. Sehingga dapat menimbulkan sikap kecurigaan diantara beberapa pihak yang berbeda agama, maka akan timbullah yang dinamakan konflik.
2. Kepentingan Politik
Dalam Islam politik tidak terpisah dari aqidah, syariat dan ahlak. Islam tidak mengenal semboyan “tujuan menghalalkan segala cara". Islam tidak mengikuti alasan untuk kebenaran dengan menggunakan kebatilan. Namun faktor politik ini terkadang menjadi faktor penting sebagai kendala dalam mencapai tujuan sebuah kerukunan antar umat beragama. Kendala yang menjadikan susah terwujudnya kerukunan umat beragama terkait dengan urusan politik menjadikan harapan tersebut susah untuk diraih. Banyaknya politisi-politisi yang mengatasnamakan agama dalam kampanyenya, dan mencaci lawan politisinya karena tidak sesuai dengan agama yang dianutya. Dalam buku Yusuf Al-qardhawi (2004: 50) di ungkapkan bahwa,
“dalam aspek politik manusia baiknya berusaha kembali kepada pemikiran Islam yang murni, yang berprinsip bahwa imamah (kepemimpinan) adalah kedudukan agama dan politik sekaligus. Imamah adalah kepemimpinan secara umum dalam urusan dunia dan agama atau wakil Rasulullah dalam menjaga urusan agama dan menyiasati dunia secara bersamaan, seperti yang diajarkan oleh para ulama kita”.
Dari pernyatan tersebut dapat dipahami bahwa seorang pemimpin (politisi) dalam berpolitik haruslah dibarengi dengan agama, namun yang dimaksudkan bukan mengatasnamakan agama untuk melawan atau memerangi lawan politisinya atau untuk mecapai tujuan tertentu. Karena sekali lagi ditegaskan bahwa politik dalam Islam berkaitan erat dengan aqidah dan akhlak tentunya yang dimaksud adalah akhlakulkarimah (akhlak yang baik), maka sesuaikan aqidah dan perilaku serta bersikap dalam posisi apapun dengan aqidah dan akhlak yang sesuai yang telah di atur oleh agama Islam.
Selain itu, fenomena yang menjadi pemberitaan publik saat ini dan menjadi suatu kekhawatiran bagi siapapun yang mendengarnya adalah munculnya kekacauan politik yang ikut memengaruhi hubungan antaragama dan bahkan memorak-porandakannya seolah petir menyambar yang dengan mudahnya merontokkan “bangunan dialog” yang sedang kita selesaikan. Seperti yang sedang terjadi pada negara Mesir saat ini. Mesir menjadi panas ketika kisruh di Mesir yang aslinya adalah murni krisis politik, lantas dihubungkan dengan agama Islam, dengan alasan ukhuwah, solidaritas, jihad, dan lain sebagainya. Selanjutnya adalah kasus Palestina-Israel yang sampai saat ini masih saja panas, dan semakin gencar dengan banyaknya dan tak henti-hentinya serangan Israel ke Palestina.
Kasus-kasus tersebut mampu menyita perhatian masyarakat di seluruh penjuru dunia, terutama oleh negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim. Karena pada kenyataannya negara yang menjadi objeknya adalah negara Muslim. Sehingga tak sedikit masyarakat khususnya masyarakat Indonesia yang berbondong-bondong menjadi partisipan yang ikut menggalakan dana dan mengadakan bentuk bantuan lainnya yang ditujukan untuk membantu negara-negara tersebut
Dari kasus tersebut kita tidak hanya menangis melihat political upheavels di dunia ini, tetapi lebih dari itu yang mengalir bukan lagi air mata, tetapi darah; darah saudara-saudara kita, yang mudah-mudahan diterima di sisi-Nya. Tanpa politik kita tidak bisa hidup secara tertib teratur dan bahkan tidak mampu membangun sebuah negara, tetapi dengan alasan politik juga kita seringkali menunggangi agama dan memanfaatkannya.
3. Sikap Fanatisme
Kesenjangan pemikiran dan pemahaman dalam kehidupan masyarakat masih sering terjadi, terutama dalam hal kehidupan beragama. Agama sering kali berada pada posisi yang sulit, di satu sisi agama diharapkan menjadi suatu problem solver (pemecah masalah) namun di sisi lain agama oleh beberapa kelompok dijadikan sebagai faktor penyebab masalah perpecahan. Salah satu penyebab hal tersebut adalah kuatnya pola pikir masyarakat terhadap agama dan kepercayaan yang dianut sehingga munculah fanatisme.
Sepeti yang kita ketahui faham yang selalu menciderai kehidupan umat beragama dan merusak keharmonisan interaksi sosial, memberi satu sudut pandang yang salah dan tidak memiliki sandaran teori yang jelas. Suatu kekeliruan jika masyarakat menganggap fanatisme adalah sikap yang paling benar dalam beragama, karena biasanya seseorang yang bersikap fanatik hanya memandang suatu hal dari satu sisi tanpa dilatarbelakangi alasan teoritis dan logis yang dapat diterima. Selain itu, kekeliruan sikap dalam beragama yang menjadikan masyarakat bersikap fanatik adalah hadirnya sikap ekslusivisme.
. Komarudin H. (Atang dan mubarok, 2006: 6) menyebutkan bahwa terdapat beberapa tipologi sikap keberagamaan yaitu eksklusivisme, inklusivisme, plurarisme, eklektivimse dan universalisme.
Salah satu tipologi sikap beragama yang merupakan kecenderungan sikap masyarakat dalam beragama yang mengarah pada munculnya fanatisme adalah sikap eksklusivisme, yaitu masyarakat berpandangan bahwa ajaran yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya, sedangkan agama lain di anggap sesat dan wajib di kikis, karena agama yang dianut dan pemeluknya tersebut dinilai terkutuk dalam pandangan Tuhan. Perkembangan sikap ekslusif ini saat ini dapat dikategorikan sebagai Islam radikal dan fundamentalis, yakni pemahaman keagamaan yang menekankan praktik keagamaan tanpa melihat bagaimana sebuah ajaran agama seharusnya diadaptasikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Misalnya bagi masyarakat yang beragama Islam masih berpandangan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan dapat menjamin keselamatan manusia. Jika orang ingin selamat, ia harus memeluk Islam. Segala perbuatan orang-orang non-Muslim, menurut perspektif aliran ini, tidak dapat diterima di sisi Allah.
Pandangan-pandangan semacam ini tidak mudah dikikis karena masing-masing aliran dalam agama tertentu, Islam misalnya, juga memiliki agen-agen dan para pemimpinnya sendiri-sendiri. Islam tidak bergerak dari satu komando dan satu pemimpin. Ada banyak aliran dan ada banyak pemimpin agama dalam Islam yang antara satu sama lain memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang agamanya dan terkadang bertentangan. Tentu saja, dalam agama Kristen juga ada kelompok eksklusif seperti ini. Kelompok Evangelis, misalnya, berpendapat bahwa tujuan utama gereja adalah mengajak mereka yang percaya untuk meningkatkan keimanan dan mereka yang berada “di luar” untuk masuk dan bergabung. Bagi kelompok ini, hanya mereka yang bergabung dengan gereja yang akan dianugerahi salvation atau keselamatan abadi. Dengan saling mengandalkan pandangan-pandangan setiap aliran dalam agama teersebut, maka timbullah sikap fanatisme yang berlebihan.
B. Toleransi Beragama Di Tengah Masyarakat Yang Beragam
Sejalan dengan adanya kendala yang telah di paparkan sebelumnya adapun dalam upaya mewujudkan kerukunan di tengah masyarakat yang beragam, kita tentunya sudah mengetahui dengan adanya konsep Toleransi. Dimana kita harus saling menghargai satu sama lain baik itu dalam hal perbedaan suku, budaya bahkan agama. Dengan adanya konsep tersebut kita di tuntut untuk dapat mengembangkannya dalam kehidupan sehari-hari agar terciptanya keselarasan antara hubungan masing-masing individu maupun dengan kelompok.
Dengan adanya pemahaman diatas, itu menjadi suatu tolak ukur bagi kita untuk dapat bersikap dengan baik, bahkan masalah toleransi ini sudah jelas tergambar dalam kitab suci yang di pahami oleh masing-masing agama, salah satunya yang tergambar jelas dalam firman Allah:
Artinya: Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.(QS. Al-Kafirun, 109:1-6)
dalam firman Allah tersebut tergambar jelas bahwasanya tidak ada saling usik dalam beribadah dan tidak ada yang namanya saling singgung satu sama lain. Bahkan di anjurkan untuk hidup dengan kepercayaannya masing-masing oleh sebab itu tidak ada lagi alasan untuk saling bercerai berai karena Allah pun tidak menyukai hal tersebut.
Dengan adanya pemahaman di atas hendaknya kita saling memperkuat iman masing-masing dan menelaah kembali makna yang sudah tersurat dalam kitab suci kita masing-masing agar kerukunan antar umat beragama dapat terwujud dan dapat dijalani dengan baik agar tidak ada lagi pertikaian satu sama lain.
Adapun bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dilakukan dalam membangun sikap toleransi yaitu dengan:
1. Gotong royong
Kegiatan gotong royong ini memanglah kegiatan yang sederhana namun sekarang sudah mulai hilang karena semakin sibuknya masing-masing individu dengan kegiatannya yang menyebabkan kurang terjalinnya silaturahmi antar lingkungan masyarakat. Mengapa dengan gotong royong dapat membangun sikap toleransi?, karena dalam kegiatan gotong royong masyarakat akan berkumpul dalam satu lingkungan tanpa melihat siapa dan apa yang di anutnya. Dalam kegiatan ini masyarakat akan menyatu dan bahu membahu untuk menciptakan tujuan yang sudah di rencanakan, selain itu dengan kegiatan ini tercipta pula hubungan silaturahmi yang semakin erat antara yang satu dengan yang lainnya,
2. Saling tolong menolong
Kegiatan ini sebenarnya merupakan kegiatan yang paling sederhana dimana ketika kita melihat orang yang ada di sekeliling kita butuh pertolongan segeralah bantu dan jangan melihat latar belakangnya, kenapa demikian karena pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial yang hakikatnya saling membutuhkan satu sama lain,
3. Menghormati pendapat orang lain
Hal ini lah yang sekarang kurang di indahkan oleh manusia yaitu menghargai pendapat orang lain, dimana saling memperkuat argumen itu menjadi prioritas utama. Padahal menghargai pendapat orang lain adalah hal yang paling utama dalam menumbuhkan sikap toleransi karena dengan kita menghargai pendapat orang lain kita akan memahami permasalahan yang sedang terjadi dan tidak akan menimbulkan pertengkaran karena satu dengan yang lain berusaha mencerna apa yang sedang di kemukakan, Dan bentuk kegiatan-kegiatan yang lainnya.
Sejalan dengan hal yang sudah di jelaskan di atas ada pula prinsip-prinsip toleransi yang yang harus kita pahami, seperti yang di kemukakan oleh A. Toto suryana A.F (suryana, toto Dkk. 1997:185) mengenai prinsip-prinsip toleransi yang ada dalam islam guna dijadikan sebagai tuntunan dalam bermasyarakat yaitu:
a. Dilarang melakukan pemaksaan dalam beragama baik secara halus apalagi kasar. Prinsip ini didasarkan pada firman Allah :
Artinya: “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam) karena telah jelas mana yang benar dan mana yang salah. Oleh Karena itu barang siapa yang ingkar kepada takdir dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS. Al-Baqarah, 2:256)
b. Manusia berhak memilih, memeluk agama, dan beribadat menurut keyakinannya. Hal ini berdasarkan firman Allah:
Artinya: Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir." Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.(QS. Al-Kahfi, 18:29)
c. tidak berguna memaksa seseorang agar menjadi seorang muslim. Firman Allah:
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus. Adakalanya ia (orang itu) bersyukur, adakalanya ia menolak jalan yang lurus itu”. (QS. Al-Insan, 76:3)
Artinya: Dan apabila tuhan mu menghendaki, orang yang ada di muka bumi ini akan beriman seluruhnya. Apakah engkau hendak memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman.(QS. Yunus, 10:99)
d. Allah tidak melarang hidup bermasyarakat dengan orang yang tidak sepaham atau tidak seagama, selama tidak memusuhi islam, firman Allah:
Artinya: Tuhan tidak melarang kamu berbuat kebaikan dan bersikap jujur terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan tidak mengusir kamu dari kampungmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang jujur.(QS. Al-Mumtahanah, 60:8)
Dengan adanya prinsip-prinsip diatas semakin memperjelas pemahaman kita akan sikap toleransi dan bagaimana seharusnya kita bersikap dan membangun sikap toleransi itu sendiri.
C. Solusi Untuk Memecahkan Kendala Dalam Mewujudkan Kerukunan Beragama
Dalam beberapa dekade terakhir ini banyak konflik yang terjadi baik di Indonesia maupun di dunia Internasional dengan berlatar belakang mengatasnamakan agama pada kasus-kasusnya. Tentu saja bila hal tersebut dibiarkan dan tidak mendapatkan respon apapun secara otomatis akan mengancam keutuhan dan persatuan pada negara terkait. Untuk mengatasi konfik tersebut banyak jalan alternatif yang bisa dilakukan. Jalan alternatif berupa solusi demi memecahkan masalah yang dihadapi dunia ini dalam mewujudkan kerukunan anatr umat beragama.
Adapun alternatif solusi yang dapat dilakukan dalam menghadapi kendala-kedala dan konflik tersebut adalah sebagai berikut.
1. Dialog Antar Agama
Dialog antar umat beragama menjadi jalan strategis dan sangat baik dipilih sebagai cara untuk mengakhiri konflik-konflik yang terjadi. Dalam kesempatan atau forum itulah diharapkan pihak-pihak terkait dapat berbicara dan mengeluarkan segala aspirasinya dengan mata hati dan nuraninya demi kepentingan dunia ini. Tanpa komitmen yang kuat dan kepedulian yang serius pada pentingnya kesejahteraan dan perdamaian dunia, mustahil konflik tersebut dapat diatasi.
Dialog yang dilakukan tentunya bukan dialog yang hampa makna karena hanya sekedar wacana dan minus dalam implementasinya. Dialog yang dimaksud adalah dialog yang tidak hanya saling beradu argumen dan mempertahankan pendapat masing-masing yang dianggap paling benar.
Tarmizi Taher, (2004 : 80) dalam bukunya mengatakan bahwa, jalan alternatif yang lebih tepat untuk mengatasi konflik adalah mengembangkan sinergi antara dialog struktural atau formal (intelektual-teologis) di kalangan elit dan dialog kultural di kalangan masyarakat bawah.
Pada ugkapan tersebut dibenarkan bahwa dialog yang baik adalah dialog yang sifatnya konfrehensif atau menyeluruh dengan melibatkan seluruh kalangan, sebab bila hanya satu aspek saja yang diambil maka itu tidak akan seimbang dan bisa jadi tidak segera menemukan target sasaran jitu dan tepat waktu. Namun, perlu diingat bahwa pada dasarnya dialog agama adalah suatu percakapan bebas, terus terang dan bertanggung jawab yang didasari rasa saling pengertian dalam menanggulangi masalah kehidupan bangsa baik berupa materil maupun spiritual. Diharapkan dengan adanya dialog agama ini tidak terjadi kesalahpahaman yang nantinya dapat memicu terjadinya konflik. Dialog antar umat beragama digunakan sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan konflik yang terjadi antara umat.
2. Bersikap Optimis
Walaupun berbagai hambatan menghadang jalan untuk menuju sikap terbuka, saling pengertian dan saling menghargai antaragama, tidak perlu bersikap pesimis. Sebaliknya, kita perlu dan seharusnya mengembangkan optimisme dalam menghadapi dan menyongsong masa depan dialog. Paling tidak ada tiga hal yang dapat membuat kita bersikap optimis.
Pertama, pada beberapa dekade terakhir ini studi agama-agama, termasuk juga dialog antaragama, semakin merebak dan berkembang di berbagai universitas, baik di dalam maupun di luar negeri. hal itu bisa menjadi pertanda dan sekaligus harapan bagi pengembangan paham keagamaan yang lebih toleran dan pada akhirnya lebih manusiawi.
Kedua, para pemimpin masing-masing agama semakin sadar akan perlunya perspektif baru dalam melihat hubungan antar-agama. Mereka seringkali mengadakan pertemuan, baik secara reguler maupun insidentil untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan memecahkan berbagai problem keagamaan yang tengah dihadapi bangsa kita dewasa ini. Kesadaran semacam ini seharusnya tidak hanya dimiliki oleh para pemimpin agama, tetapi juga oleh para penganut agama sampai ke akar rumput sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara pemimpin agama dan umat atau jemaatnya. Kita lebih mementingkan bangunan-bangunan fisik peribadatan dan menambah kuantitas pengikut, tetapi kurang menekankan kedalaman (intensity) keberagamaan serta kualitas mereka dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Ketiga, masyarakat harus semakin dewasa dalam menanggapi isu-isu atau provokasi-provokasi. Masyarakat sebisa mungkin mudah disulut dan diadu-domba serta dimanfaatkan, baik oleh pribadi maupun kelompok demi target dan tujuan politik tertentu. Meskipun berkali-kali tempat ibadah diledakkan, tetapi semakin teruji bahwa masyarakat kita sudah bisa membedakan mana wilayah agama dan mana wilayah politik. Ini merupakan ujian dan merupakan tugas kita bersama untuk mengatasi hal tersebut. Yakni pemerintah, para pemimpin agama, dan masyarakat untuk mengingatkan para aktor politik di negeri kita untuk tidak memakai agama sebagai instrumen politik dan tidak lagi menebar teror untuk mengadu domba antarpenganut agama.
Jika tiga hal ini bisa dikembangkan dan kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya, maka setidaknya kita para pemeluk agama masih mempunyai harapan untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan pada gilirannya bisa hidup berdampingan sebagai kawan daripada sebagai lawan.
Selain beberapa alternatif di atas terdapat beberapa hal yang mendukung dalam kaitannya memecahkan konflik serta menjadikan jalan keluar yang dapat di tempuh oleh setiap masyarakat.
a. Pendidikan Multikultural
Perlu ditanamkannya pemahaman mengenai pentingnya toleransi antar umat beragama sejak dini. Hal ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan. kita sadari bahwa dunia ini memiliki keanekaragaman yang harus di hormati dan dihargai. Hal tersebut juga dapat diwujudkan melalui sebuah implementasi berupa sikap sebagai berikut :
1. Menanamkan sikap tenggang rasa kepada sesama.
2. Saling hormat-menghormati antar pemeluk agama yang berbeda-beda.
3. Menghilangkan sikap fanatic yang berlebihan, yang selalu mengagung-agungkan agama sendiri secara berlebihan.
4. Meningkatkan sikap solidaritas terhadap sesama. Karena Allah menyayangi mahluknya terlepas dia seorang muslim ataupun nonmuslim, begitupun Rasulallah tidak pernah membedakan kasih sayangnya terhadap orang kafir ataupun orang muslim. Karena Islam tidak memperbolehkan umatnya untuk menyakiti atau memerangi orang kafir kecuali mereka yang memulai.
5. Menyelesaikan masalah dengan musyawarah.
6. Menonjolkan segi-segi persamaan dalam agama,tidak memperdebatkan segi-segi perbedaan dalam agama.
7. Melakukan kegiatan sosial yang melibatkan para pemeluk agama yang berbeda.
8. Meningkatkan pengetahuan nilai-nilai agama masing-masing. Melalui pembinaan ini individu akan terarah pada terbentuknya pribadi yang memiliki budi pekerti luhur dan akhlakul karimah.
Solusi tersebut tidak lain merupakan perwujudan dari sikap toleransi yang harus dimiliki agar tidak lagi terjadi konflik antar umat.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Dalam mewujudkan kerukunan antar umat beragama terdapat kendala-kendala yang dihadapi yaitu rendahnya sikap toleransi, mementigkan kepentingan politik serta tingginya sikap fanatisme. Dalam upaya membangun sikap toleransi dapat dilakuakn dengan mengadakankegiatan-kegiatan seperti gotong royong, saling menolong dan juga menghargai pendapat orang lain selain itu dengan memahami prinsip-prinsip dari toleransi itu sendiri dapat ikut membantu mewujudkan sikap toleransi pada individu.
Terdapat beberapa alternatif solusi dalam menghadapi kendala dan konflik yang dihadapi yaitu dengan dilakukannya dialog antar pemuka agama, bersikap optimisme serta bentuk kegiatan-kegiatan yang mengarah pada toleransi terhadap perbedaan, khususnya perbedaab pada aspek agama.
B. Saran
Sejalan dengan simpulan diatas, penyusun merumuskan saran sebagai berikut.
1. Masyarakat mampu sadar terhadap pentingnya mewujudkan kerukunan umat beragama..
2. Para tokoh agama dan pemerintah mampu bersinergi dalam mengatasi berbagai kendala yang menyabakan konflik yang mennggoyahkan kehidupan umat beragama.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qaradhawi, Yusup. (2004) Konsep Islam Solusi Utama Bagi Umat. Jakarta: Senayan Abadi Publishing.
Al-Qaradhawi, Yusup. (2005) Ghairal Muslimin Fil Mujtama Il Islami. Jakarta: Senayan Abadi Publishing.
Al-Qur`An dan Terjemah
Abd Hakim, Atang. dan Mubarok, Jaih. (2006) Metodologi Studi Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Halim, Andreas. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Sulita Jaya.
Suryana, Toto. DKK. (1997) Pendidikan Agama Islam. Bandung: Tiga Mutiara.
Taher, Tarmizi. (2004) Agama Kemanusiaan Agama Masa Depan. Jakarta: Grafindo.
Nasution, Harun. (2011) Pemahaman Makna Toleransi. [Online]. Tersedia: Http://\Harun.nasution/pemahaman-makna-toleransi.Html. [24 september 2013]
www.wikipedia.com. [23 september 2013]
Laman
Rabu, 16 Maret 2016
TANTANGAN DAN PENGEMBANGAN DAKWAH DI ERAGLOBALISASI
TANTANGAN DAN PENGEMBANGAN DAKWAH DI ERAGLOBALISASI
MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Seminar Pendidikan Agama Islam
Dosen:
Dra. Hj. Titing Rohayati, M. Pd.
oleh:
Deh Iyan Apriani Rohmah 1104322
Ria Mustika 1106586
Yuli Kartini Indriawati 1107145
5B-PGPAUD
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KAMPUS CIBIRU
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari dan memiliki konsekuensi nyata baik bagi individu maupun kelompok. Kenyataan tersebut disebut globalisasi. Globalisasi dipercaya merupakan tangga evolusi kehidupan manusia yang akan menuntun manusia pada sebuah perkembangan zaman yang pesat dalam berbagai bidang. Jika dikatakan perkembangan maka tentu saja terdapat berbagai perubahan. Hal yang menjadi kontroversi saat ini adalah perkembangan atau perubahan sebagai akibat dari globalisasi ini tidak sepenuhnya berdampak positif. Terdapat banyak dampak negatif yang dilahirkan oleh globalisasi. Tentu saja, hal tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja, terutama apabila hal tersebut menyangkut aqidah atau keimanan seseorang.
Salah satu dampak globalisasi menyamarkan antara hal yang baik dan buruk. Namun, dalam Islam ada yang disebut dakwah. Dakwah ini memiliki tujuan untuk menyeru manusia untuk berbuat baik dan menghindari perbuatan yang buruk. Sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q.S. Ali Imron ayat 110 yaitu:
“Kamu (wahai umat Muhammad) adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan, (karena) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang daripada segala perkara yang salah (buruk dan keji), serta kamu pula beriman kepada Allah (dengan sebenar-benar iman).”
Dengan landasan inilah yang membuat umat Islam memiliki kewajiban untuk selalu beriman kepada Allah dan menyeru orang lain pada kebaikan serta mencegah kemungkaran. Dengan demikian, dakwah menjadi salah satu solusi bagi umat manusia dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Globalisasi menyentuh semua bidang. Artinya, setiap peri kehidupan manusia tidak akan terlepas dari dampak positif dan negatif yang dilahirkan oleh globalisasi. Pada hakikatnya, bidang kehidupan manusia terdiri dari sosial, ekonomi, pertahanan, kesehatan dan pendidikan. Dan semua bidang tersebut dikendalikan oleh manusia. Akan muncul masalah apabila manusia tidak mampu mendapatkan nilai positif justru mendapatkan atau terjerumus pada dampak negatif globalisasi. Ketidakmampuan manusia ini berkaitan dengan pondasi agama yang lemah. Sementara alam pikirannya telah dikuasai rasionalitas globalis. Seperti manusia yang sekular, liberalis, materialistis dan lain-lain.
Solusi permasalahan di atas, sudah jelas salah satunya adalah melalui dakwah. Pertanyaanya adalah “Mungkinkah dakwah tradisonal bisa menjawab tantangan globalisasi?” apabila tidak maka “Metode seperti apakah yang tepat untuk menjawab semua tantangan globalisasi?”. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengantarkan penulis atau mendorong penulis untuk menyusun makalah yang berjudul “Tantangan dan Pengembangan Dakwah di Era Globalisasi”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah pengaruh globalisasi bagi masyarakat (umat)?
2. Bagaimana tantangan dakwah di era globalisasi?
3. Bagaimana metode pengembangan dakwah di era globalisasi?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka, tujuan penulisan makalah adalah untuk mengetahui dan menganalisis:
1. pengaruh globalisasi bagi masyarakat (umat);
2. tantangan dakwah di era globalisasi;
3. metode pengembangan dakwah di era globalisasi.
D. Manfaat Penulisan Makalah
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat bagi:
1. penulis, menambah wawasan mengenai tantangan dan pengembangan dakwah di era globalisasi;
2. pembaca, media informasi mengenai tantangan dan pengembangan dakwah di era globalisasi.
E. Metode Penulisan Makalah
Metode penulisan makalah yang digunakan oleh penulis adalah metode deduktif/studi pustaka. Yakni, penulis membaca berbagai referensi terkait permasalahan yang diangkat dalam makalah ini.
F. Sistematika Penulisan Makalah
Sistematika penulisan makalah terdiri dari cover, kata pengantar, daftar isi, bab 1 pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan makalah, manfaat penulisan makalah, metode penulisan makalah dan sistematika penulisan makalah, bab 2 kajian teori meliputi hakikat dakwah dan hakikat globalisasi, bab 3 pembahasan meliputi pengaruh globalisasi terhadap masyarakat, tantangan dakwah di era globalisasi dan metode pengembangan dakwah di era globalisasi, bab 4 meliputi simpulan dan saran serta terakhir adalah daftar pustaka.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Hakikat Dakwah
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. An Nahl : 125)
1. Pengertian Dakwah
Secara etimologis, dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu da’a, yad’u, da’wan, du’a, yang diartikan sebagai mengajak /menyeru, memanggil, seruan, permohonan, dan permintaan. Istilah ini sering diberi arti yang sama dengan istilah-istilah tabligh, amr, ma’ruf dan nahyi munkar, mau’idzhoh hasanah, tabsyir, indzhar, washiyah, tarbiyah, ta’lim, dan khutbah.
Munir dan Ilaihi dalam buku Manajemen Dakwah (2006:18) mengemukakan bahwa “dakwah Islam adalah sebagai kegiatan mengajak, mendorong dan memotivasi orang lain berdasarkan bashirah untuk meniti jalan Allah dan istoqomah di jalan-Nya serta berjuang bersama meninggikan agama Allah.” Dapat dijabarkan dari pernyataan diatas bahwa kata mengajak, mendorong dan memotivasi memiliki satu prinsip yang sama yaitu tabligh artinya menyampaikan sesuatu pada orang lain. Sementara bashirah adalah ilmu dan perencanaan yang baik untuk melakukan sesuatu, tentu saja dalam hal ini dakwah. Sedangkan maksud dari meniti jalan Allah adalah tujuan dari berdakwah yaitu untuk mendapatkan keridhaan Allah Swt. (mardhotillah). Istiqomah berarti dakwah hendaknya dilakukan secara berkesinambungan. Menurut Yuliani (2012:20) “…dengan menggunakan prinsip istiqomah maka akan terlahir semangat dan potensi rohani yang menjadikan dakwah semakin menyentuh”. Dan maksud dari berjuang bersama meninggikan agama Allah adalah kegiatan dakwah dilaksanakan bukan hanya untuk menciptakan keshalehan pribadi namun keshalehan sosial sehingga agama Allah semakin kuat.
Ulama lain yaitu Ali Makhfudh (Munir dan Ilaihi, 2006:19) menyatakan bahwa ‘dakwah adalah mendorong manusia untuk berbuat kebajikan dan mengikuti petunjuk (agama), menyeru mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari perbuatan munkar agar memperoleh kebahagian dunia dan akhirat.’ Dari pernyataan ini, maka dakwah merupakan seruan untuk melakukan kebaikan dan menjauhi perbuatan tercela agar mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.
Sementara Quraish Shihab (Munir dan Ilaihi, 2006:19) mendefinisikan ‘dakwah sebagai seruan atau ajakan kepada keinsafan atau usaha mengubah situasi yang tidak baik ke situasi yang lebih baik dan sempurna baik terhadap pribadi maupun masyarakat.’ Jadi menurut Quraish dakwah adalah upaya memperbaiki diri dan masyarakat agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Berdasarkan beberapa pengertian dakwah yang telah dikemukakan oleh para ahli maka penulis dapat menyimpulkan bahwa dakwah adalah upaya untuk meningkatkan kualitas manusia baik pribadi maupun kelompok sehingga menjadi orang-orang yang lebih baik dari sebelumnya.
2. Unsur-Unsur Dakwah
Unsur-unsur dakwah adalah komponen-komponen yang terdapat dalam setiap kegiatan dakwah. Adapun unsur-unsur tersebut meliputi da’i (pelaku dakwah), mad’u (mitra dakwah), maddah (materi dakwah), wasilah (media dakwah), thariqah (metode dakwah) dan afsar (efek dakwah).
Da’i adalah orang yang menyeru, mengajak, memberi pengajaran dan pelajaran agama Islam. Orang tersebut harus mengetahui cara menyampaikan dakwah tentang Allah, alam semesta dan kehidupan serta solusi dari setiap masalah yang timbul juga metode berdakwah yang tepat. Sesuai dengan firman Allah Surah Ali Imron ayat 104 yaitu:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar . merekalah orang-orang yang beruntung.”
Mad’u adalah manusia yang menjadi sasaran dakwah atau manusia penerima dakwah baik individu maupun kelompok. Mad’u adalah manusia yang muslim maupun non-muslim atau manusia secara keseluruhan. Menurut Ismail dan Herman (2011:173)
Mad’u digolongkan kedalam empat kategori yaitu sikap mad’u terhadap seruan dakwah, kedua antusiasnya kepada dakwah, kemampuan dalam memahami dan menangkap pesan dakwah dan keempat kelompok mad’u berdasarkan keyakinannya. Kelompok pertama adalah al mala yaitu orang yang memiliki wewenang atas masyarakat, jumhur al –nas yaitu kelompok mayoritas yang berada dibawah kewenangan kaum penguasa, al-munafiqun yaitu orang yang menerima agama dari satu sisi tetapi menolaknya dari sisi yang lain dan al usat yaitu orang yang suka melakukan dosa walaupun di dalam hatinya masih ada pijakan agama. Golongan kedua yaitu mad’u berdasarkan antusiasnya kepada dakwah yaitu kelompok yang bersegera menerima kebenaran, pertengahan dan kelompok yang mendzalimi diri sendiri. Golongan ketiga adalah mad’u berdasarkan kemampuannya menangkap pesan dakwah meliputi orang yang berpendidikan tinggi, berpendidikan dan kelompok awam. Golongan keempat adalah mad’u menurut keyakinannya yaitu mad’u yang bergama Islam dan mad’u yang tidak beragama Islam.
Maddah adalah isi pesan atau materi yang disampaikan da’i kepada mad’u tentu saja mengenai ajaran Islam. Menurut Munir dan Ilaihi (2006:24) “secara umum materi dakwah diklasifikasikan menjadi empat masalah pokok yaitu masalah aqidah (keimanan), masalah syari’ah, masalah mu’amalah dan masalah akhlak.”
Wasilah (media) dakwah adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan materi dakwah kepada mad’u. menurut Hamzah Ya’qub (Munir dan Ilaihi, 2006:32) ‘wasilah dakwah dibagi menjadi lima macam yaitu lisan, tulisan, lukisan, audio visual dan akhlak’.
Sementara thariqah (metode) adalah cara atau jalan yang dipakai da’i untuk menyampaikan ajaran atau materi dakwah Islam. Cara yang digunakan haruslah cara yang baik seperti yang disampaikan Rasulullah Saw. dalam H.R. Bukhori Muslim
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال يا عائشة:
إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ ماَ لاَ يُعْطِي عَلَى العُنْفِ وَماَ لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ.
(رواه مسلم)
“Sesungguhnya Allah Maha lembut, mencintai kelembutan, dia memberikan kepada yang lembut apa yang tidak diberikan kepada yang kasar.”
Atsar (efek) dakwah adalah umpan balik dakwah dari mad’u. Menurut Jalaludin Rahmat (Munir dan Ilaihi, 2006:35) ‘efek dakwah terdiri dari efek kognitif (perubahan pada apa yang diketahui), efek afektif (perubahan pada apa yang dirasakan) dan efek behavioral (perubahan yang merujuk pada perilaku nyata)’.
B. Hakikat Globalisasi
Menurut Selo Sumarjan (Effendi dan Setiadi, 2010:90)
Globalisasi adalah suatu proses terbentuknya sistem organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia, yang bertujuan untuk mengikuti sistem dan kaidah-kaidah tertentu yang sama, contohnya : PBB, OKI, ASEAN, beserta hukum-hukum internasional seperti HAM yang tertuang dalam piagam PBB.
Dari pernyataan Selo Sumarjan mengenai globalisasi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa globalisasi pada hakikatnya merupakan sebuah sistem yang memiliki aturan yang dipatuhi atau diikuti dan dijalankan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Menurut Emanuel Ritcher (http://blogbintang.com/pengertian-globalisasi-menurut-para-ahli) ‘Globalisasi adalah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi kedalam saling ketergantungan dan persatuan dunia’. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa globalisasi menyebabkan manusia saling bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Berdasarkan pengertian globalisasi menurut para ahli di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa globalisasi adalah hasil kerjasama masyarakat dunia yang melahirkan aturan dan membuat masyarakat tersebut saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Menurut Risti Zona (www.ristizona.com/2011/01/ciri-ciri globalisasi.html#ixzz2fmkl0g5P)
Adapun ciri yang terlihat dalam era globalisasi antara lain:
1. Terjadinya Perubahan dalam konstantin ruang dan waktu.
Berkembangnya barang-barang seperti televisi satelit, telepon genggam dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
2. Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
3. Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). Saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
4. Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup,
krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
Dampak dari globalisasi menurut Afand (http://afand.abatasa.co.id/post/detail/2761/dampak-positif-dan-dampak-negatif--globalisasi-dan-modernisasi)
Sementara dampak positf dari globalisasi adalah sebagai berikut.
1. Perubahan tata nilai dan sikap: adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.
2. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.
3. Tingkat kehidupan yang lebih baik: dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Sedangkan dampak negatif dari globalisasi adalah sebagai berikut.
1. Pola hidup konsumtif : perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.
2. Sikap individualistik : masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.
3. Gaya hidup kebarat-baratan : tidak semua budaya barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.
4. Kesenjangan sosial : apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengaruh Globalisasi bagi Masyarakat (Umat)
Telah dipaparkan pada bab sebelumnya mengenai globalisasi. Globalisasi merupakan tangga evolusi kehidupan manusia sehingga tidak mungkin untuk dihindari begitu saja. Apalagi globalisasi menawarkan berbagai kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Walaupun demikian, manusia harus juga menghadapi dampak negatif dari globalisasi yang tidak sedikit.
Globalisasi menyentuh atau memberikan pengaruh bagi kehidupan manusia dalam berbagai bidang. Mari kita kaji satu per satu.
1. Bidang Ideologi Politik
Misalnya negara tidak lagi dianggap sebagai pemegang kunci dalam proses pembangunan. Pembangunan dianggap sebagai tanggungjawab semua warga negara. Sehingga proses pembangunan akan selalu melibatkan masyarakat secara aktif.
2. Bidang Sosial Budaya
Semakin bertambah globalnya berbagai nilai budaya kaum kapitalis dalam masyarakat dunia. Merebaknya gaya berpakaian barat di negara-negara berkembang. Menjamurnya produksi film dan musik dalam bentuk kepingan CD/ VCD atau DVD.
3. Bidang Ekonomi
Globalisasi dan pasar bebas telah menawarkan alternatif bagi pencapaian standar hidup yang lebih tinggi. Semakin melebarnya ketimpangan pendapatan antar negara-negara kaya dengan negara-negara miskin. Munculnya perusahaan-perusahaan multinasional dan transnasional. Membuka peluang terjadinya penumpukan kekayaan dan monopoli usaha dan kekuasaan politik pada segelintir orang. Munculnya lembaga-lembaga ekonomi dunia seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, WTO.
4. Bidang Pendidikan
Pendidikan di Indonesia telah berkembang dengan pesat, misalnya adanya dukungan teknologi seperti komputer, in focus dan lain-lain.
5. Bidang Sosial Budaya
Pada era globalisasi disuguhkan beribu busana yang membuka aurat. Akibatnya generasi muda Islam semakin jauh dengan busana muslimah karena dinilai tidak trendy.
6. Bidang Aqidah dan Syari’ah
Toleransi antar umat beragama disalah artikan. Misalnya seorang non-muslim mengundang muslim untuk merayakan natal, valentine day dan lain-lain. Seorang muslim yang tidak mau hadir dinilai kurang toleransi.
Apabila dilihat dari bentuknya maka globalisasi memberikan pengaruh dalam dua aspek, yang dibedakan berdasarkan jenisnya, yaitu makanan dan minuman , serta hiburan dan pakaian.
1. Aspek makanan dan minuman
Dewasa ini, makanan dan minuman baik di desa maupun di perkotaan sudah banyak dipengaruhi oleh makanan dan minuman dari luar negeri terutama negara barat. Banyak makanan dan minuman asli dalam negeri sudah bukan jajanan yang menarik lagi bagi bangsanya sendiri. Mereka lebih tertarik dengan makanan dan minuman seperti humberger, pizza, friedchicken, dunkin donuts, coca cola, mocca float dan lain-lain. Orang akan merasa bangga mengonsumsi makanan dan minuman tersebut dibandingkan memakan gado-gado atau meminum bandrek. Lebih lanjut, banyak isu yang menyebutkan tidak sedikit orang muslim yang mengkonsumsi makanan atau minuman yang haram.
2. Aspek hiburan dan pakaian
Berpakaian bukan hanya sekedar menutupi bagian tubuh yang dikehendaki untuk ditutup, namun berpakaian adalah menutupi bagian-bagian tubuh yang disebut aurat. Semenjak globalisasi menyebar, banyak pakaian yang dapat mengumbar aurat dan membentuk lekuk tubuh. Gaya berpakaian seperti ini bukanlah cara berpakaian orang Timur apalagi umat Islam. Sayangnya, sudah banyak yang tidak mempedulikan hal tersebut dengan alasan ingin selalu mengikuti trend dan ingin dikatakan trendy.
Hiburan itu banyak jenisnya. Namun, tidak semua hiburan sesuai dengan nilai-nilai Ilahiyah. Seperti, pergi ke pub atau diskotik melihat banyak maksiat bahkan melakukan hal tersebut misalnya mabuk-mabukan. Hiburan macam ini adalah dampak negatif globalisasi yang membuat degradasi moral bangsa.
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh globalisasi bagi masyarakat (umat) adalah sebagai berikut.
1. Masyarakat yang terbuka tanpa sekat;
2. Masyarakat ilmiah yang kritis dan rasionalis;
3. Masyarakat yang serba kompetitif dan hedoni;
4. Masyarakat yang dekade dan liberal.
B. Tantangan Dakwah di Era Globalisasi
Hidup adalah sebuah perjuangan adalah terminologi yang sudah ada sejak zaman nabi. Terminologi ini memberitahukan manusia bahwa di dunia akan ada tantangan dan agar tetap bisa bertahan serta hidup bahagia di dunia ini maka harus berjuang untuk melewati tantangan tersebut. Begitupun untuk kehidupan kita nanti di akhirat perlu berjuang untuk bahagia di akhirat. Banyak yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat. Namun, untuk mendapatkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan yang kosong melainkan seperti membalikkan tangan yang diapit keping baja.
Salah satu yang menjadi tantangan dalam hidup manusia adalah pengaruh globalisasi yang sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Banyak solusi untuk mendapatkan kesuksesan dalam menjawab tantangan tersebut. Namun, tentu saja satu hal yang menjadi dasar dan utama dari semua solusi itu adalah agama. Agama yang dimaksud tentu saja agama Islam karena hanya agama Islamlah yang bisa menjawab semua tantangan tanpa mendapatkan efek negatif. Tentu saja berbeda dengan agama lain. Seperti yang telah Allah firmankan dalam Q.S. Ali- Imron ayat 19 yaitu:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya”
Islam menyediakan berbagai cara untuk menjawab setiap tantangan hidup termasuk pengaruh globalisasi. Salah satu di antaranya adalah melalui dakwah. Apalagi dakwah merupakan sebuah upaya yang bukan hanya menciptakan keshalehan pribadi namun juga keshalehan sosial. Artinya, dakwah sangat cocok untuk menjawab tantangan globalisasi. Mengapa demikian? karena pengaruh globalisasi tidak menyentuh satu pihak tetapi banyak pihak bahkan masyarakat di seluruh dunia. Setiap pihak akan mempengaruhi pihak lainnya.
Apabila sudah diketahui solusi terbebas dari tantangan globalisasi adalah dakwah maka lakukanlah dakwah. Namun, harus diingat bahwa menjawab setiap tantangan tidak semudah membalikkan telapak tangan yang kosong melainkan seperti membalikkan tangan yang diapit keping baja. Masih ada masalah yang muncul yakni dalam melakukan dakwah di era globalisasi ini pun terdapat tantangannya. Dan tantangan inilah yang perlu diketahui, dikaji dan dipahami dengan baik. Karena itulah kunci pertama dan utama dari penyelesaian masalah terkait tantangan dakwah di era globalisasi ini. Mari kita kaji setiap tantangan dakwah di era globalisasi dengan bekal pengetahuan dari pembahasan-pembahasan sebelumnya.
Pada hakikatnya tantangan di era globalisasi ini menekankan pada pola pikir manusia. Istilah yang lebih dikenal Ghozwul Fikri. Lebih lanjut, Ghozwul Fikri adalah perang pemikiran. Ghozwul Fikri memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan perang fisik. Abdul Halim El-Muhammady (1992:95) mengungkapkan bahwa
Perang pemikiran memiliki banyak keunggulan dibandingkan perang fisik yaitu pertama, dana yang diperlukan tidak sebesar dana yang diperlukan untuk perang fisik. Kedua, sasaran daripada ghazwul fikri ini tidak terbatas. Ketiga, serangannya dapat mengenai siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Keempat, tidak ada korban dari pihak penyerang. Kelima, korban tidak merasakan bahwa sesungguhnya dirinya dalam kondisi diserang. Keenam, kesan yang dihasilkan sangat fatal dan berjangka panjang. Ketujuh, efektif dan efisien.
Ghozwul Fikri diawali dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang pesat. Perang pemikiran bermula dari pemikiran yang menganggap bahwa tidak ada cara yang lebih unggul untuk menghancurkan umat, terkecuali dengan terlebih dahulu memudarkan nilai moral umat tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q.S Al-Isra : 73
“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.”
Dari pembahasan yang dipaparkan diatas maka dapat kita ketahui bahwa tantangan dakwah yang dihadapi da’i maupun mad’u di era globalisasi ini dapat dikelompokkan menjadi dua faktor yaitu:
1. Faktor tantangan internal yang datang dari da’i.
Maksud faktor tantangan internal ialah faktor yang timbul dari dalam diri pendakwah ataupun da’i itu sendiri karena sebab-sebab tertentu. Meliputi, pertama da’i yang ada di tengah masyarakat pada umumnya tidak memahami sepenuhnya agama Islam, sehingga penyampaian Islam hanya menyampaikan dari satu sudut pandang yang menimbulkan pemahaman yang picik, fanatik bahkan muncul banyaknya aliran sesat. Kedua, da’i yang pada dasarnya kurang kompeten dan kurang persiapan dalam menyampaikan materi dakwah. Padahal hal ini mempengaruhi penyampaian materi agar tidak monoton.Ketiga adalah da’i melakukan dakwah dengan tujuan untuk mencari penghasilan. Keempat, da’i yang mencampurkan urusan pribadi dengan
urusan dakwah. Kelima, terdapat model dakwah da’i yang tidak benar seperti yang dilakukan oleh para teroris dengan beranggapan bahwa jalan yang ditempuhnya adalah untuk berjihad mengatas namakan ajaran agama Islam.
2. Faktor eksternal yang datang dari mad’u
Adapun faktor yang dapat menyebabkan tantangan dakwah di era globalisasi semakin kompleks yaitu faktor eksternal yang timbul dari mad’u-nya sendiri berupa masyarakat yang ilmiah dan kritis sehingga masyarakat menuntut rasionalitas dari setiap materi dakwah yang disampaikan. Selain itu masyarakat yang terbuka tanpa sekat yaitu menerima semua informasi atau pengaruh tanpa memfilter atau memilih yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Adapula masyarakat dekade dan liberal, yang memiliki paham kebebasan dalam menanggapi realitas hidup. Masyarakat yang tidak mempercayai ajaran Islam sebagai akibat dari perilaku teroris yang mengatasnamakan umat Islam.
Tantangan dalam melakukan dakwah di era globalisasi hendaknya tidak menjadikan umat Islam putus asa dalam berdakwah. Sesulit apapun tantangan-tantangan tersebut, Allah Swt. pasti memberikan kemudahan dalam menyelesaikannya. Sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q. S. Al Insyiroh ayat 5 yaitu:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”.
C. Metode Pengembangan Dakwah di Era Globalisasi
Firman Allah Swt. dalam Q. S. Al-Qisos ayat 56 yaitu:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.
Dari ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa pemberian hidayah agar seseorang itu menerima dakwah adalah hak Allah Swt., kewajiban umat muslim adalah berdakwah sesuai kemampuan yang dimiliki. Adapun dalam menerapkan sebuah metode harus memerhatikan beberapa hal yaitu pertama, dakwah Bi Al-Hikmah yaitu berdakwah dengan memerhatikan situasi dan kondisi mad’u dengan menitikberatkan pada kemampuannya. Sehingga dalam menjalankan ajaran-ajaran Islam mad’u tidak akan merasa keberatan atau terpaksa. Kedua berdakwah dengan Al-Mau’idzah Al-Hasana ( pelajaran yang baik ) yaitu berdakwah dengan memberikan nasihat-nasihat atau menyampaikan ajaran-ajaran Islam dengan rasa kasih sayang, sehingga nasihat dan ajaran Islam yang disampaikan dapat menyentuh hati mad’u. Ketiga berdakwah Mujadallah billati Hiya Ahsan yaitu berdakwah dengan cara bertukar pikiran dan membantah dengan sebaik-baiknya, dengan tidak memberikan tekanan-tekanan yang memberatkan mad’u.
Adapun metode yang dapat digunakan dalam berdakwah di era globalisasi adalah pertama, Dakwah Bi Al-Kitabah yaitu berdakwah melalui buku, majalah, surat, surat kabar, spanduk, pamplet, lukisan-lukisan dan sebagainya, juga dengan menggunakan dunia maya/internet. Kedua, Dakwah Bi Al-Lisan yaitu metode dakwah dengan melakukan ceramah, seminar, diskusi, khutbah, saresehan, obrolan dan lain-lain. Kegiatan penyampaian ajaran agama Islam secara lisan ini biasanya dilakukan di majelis-majelis taklim, mesjid-mesjid dan mimbar-mimbar keagamaan. Bentuk kegiatan Dakwah Bi Al Lisan dapat dilakukan dalam rangka bimbingan penyuluhan Islam (irsyad), manajemen dakwah (tadbir), dan pengembangan masyarakat Islam (tatwir). Ketiga Dakwah Bi Al-Hal yaitu metode dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata dan tindakan serta memberikan contoh yang baik sehingga manusia mudah memahami dan mengikutinya tanpa harus mengajak dengan lisannya. Cara ini seringkali dilakukan oleh Rasulullah seperti perilaku yang sopan sesuai ajaran Islam seperti memelihara lingkungan, dan lain sebagainya.
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan uraian bab sebelumnya penulis dapat mengemukakan simpulan sebagai berikut.
1. Pengaruh globalisasi bagi masyarakat (umat) adalah masyarakat yang terbuka tanpa sekat, masyarakat ilmiah yang kritis dan rasionalis,masyarakat yang serba kompetitif dan hedoni dan masyarakat yang dekade dan liberal;
2. Tantangan pengembangan dakwah berasal dari dua faktor, yaitu faktor internal (da’i) dan faktor eksternal (mad’u);
3. Metode yang tepat dalam dakwah di era globalisasi adalah Dakwah Bil Al Kitabah, Dakwah Bil Al Lisan dan Dakwah Bil Al Hal.
B. Saran
Sejalan dengan simpulan di atas, penulis merumuskan saran sebagai berikut.
1. Umat Islam hendaknya melakukan berbagai upaya agar mampu hidup di era globalisasi dengan baik berlandaskan pondasi ajaran Islam;
2. Para da’i hendaknya memahami betul cara melakukan dakwah di era globalisasi yang penuh dengan tantangan.
DAFTAR PUSTAKA
Al- Qur’an dan Terjemahnya. (1986). Departemen Agama. Semarang : CV Alwaah.
Al- Hadits.
Afand. (2010). Dampak Positif dan Dampak Negatif Globalisasi dan Modernisasi. [Online]. Tersedia: http://afand.abatasa.co.id/post/detail/2761/dampak-positif-dan-dampak-negatif--globalisasi-dan-modernisasi. [18 September 2013].
Effendi dan Setiadi. (2010). Pendidikan lingkungan, Sosial, Budaya dan Teknologi. Bandung : UPI Press.
Halim, A. E. M. (1992). Dinamika Dakwah Suatu Perspektif dari Zaman Awal Islam hingga Kini. Kuala Lumpur: Budaya Ilmu.
Ismail, M. A. dan Herman, P. (2006). Filsafat Dakwah. Bandung : Prenada Media Group.
Munir, M. dan Ilaihi, S. (2006). Manajemen Dakwah. Jakarta : Prenada Media Group.
Risti Zona. (2011). Ciri-Ciri Globalisasi .[Online]. Tersedia: www.ristizona.com/2011/01/ciri-ciri globalisasi.html#ixzz2fmkl0g5P. [18 September 2013].
Yuliani, H. (2012). Kumpulan Materi Dasar-Dasar Manajemen Dakwah. Bandung : UIN.
Selasa, 13 Mei 2014
aku merindukanmu, ibu...
14 hari setelah keprgian ibu, ah entah kata apa yang bisa menggambarkan perasaan ini,
teringat semua kebaikannya selama ini
baju, tas, sepatu aaah semua yang dia beri
terimakasih bu, maaf sekali hana belum berbalas jasa pada ibu
semoga Allah senantiasa melapangkan kubur ibu...
sampai saat ini menangis itu hal yang pasti ketika mengingat ibu
bahkan setiap hal kecil yang mengingatkan padanya sesak sekali didada
memang kematian hanya Allah yang kendalikan, kami hanya bisa berdoa untuk kebaikannya
pernah suatu ketika aku berandai-andai memohon pada Allah agar mengembalikan nyawa ibu, jangan secepat ini ya Rabb engkau ambil nyawa ibu
yah tapi Allah maha tau maha baik maha memberi yang terbaik untuk ibu
Allah sangat menyayangimu bu hingga engkau lebih cepat menghadap-Nya
semoga Allah melimpahkan semua rahmat dan karunia-Nya pada ibu amin
29 april tepatnya ibu wafat, khusnul khotimah tentunya (Amin), tapat hari itu aku berfikir bagaimana kedepannya tanpa ada ibu
bagaimana aku bertanya mengenai anak didiknya yang aku ajari les setiap sabtu
bagaimana aku bertanya apa yang harus ku ajarkan pada mereka
apa yang harus ku kembangkan dalam pembelajaran les ku
ah ibu ini terlalu cepat.....
aku merindukan mu ibu
bu sekarang tiap hana kerumah yang pertama kali dilihat adalah foto ibu disebelah kamar ibu
hana hanya bisa mendoakan ibu
maaf belum bisa memberi dan menunjukan yang terbaik hingga saat ibu wafat
bu, sekarang anak didik ibu nambah dua orang yang di les sama hana
aleum sama robi, sebenarnya banyak sekali yang mesti hana tanyain tentang mereka berdua
terimakasih bu, semua ini berkat ibu yang mempercayakan hana menjadi guru les anak didik ibu
makasih bu, setelah lidya, sami, dan alika, sekarang nambah robi dan aleum
rezeki yang Allah kasih lewat ibu, makasih bu terimakasih
banyak hal yang ingin hana sampaikan setelah kepergian ibu,
mengenai faisal anak bungsu ibu yang hana sayangi bu, doakan kita agar selalu dalam kebaikan ya bu, ridhoi kita semoga a isal bisa jadi imam hana amin
tentang teh isti dan teh ade bu, teh isti yang selalu merindukan ibu dalam keadaan apapun, teh ade yang sekarang hamil cucu ibu, fani agak rewel semenjak ibu pergi, bahkan anak-anak didik ibu yang selalu merindukan ibu
itu hanya sebagian kecil yang ingin hana bicarakan
semoga ibu tenang disana, dilapangkan kuburnya, diterangi kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur, ditempatkan ditempat yang paling indah dan dekat dengan Allah ... amin
bu, ini satu satunya foto yang hana punya buat ibu, maaf hana belum bisa membuat kenangan indah lebih banyak sama ibu, makasih atas segala kebaikan yang ibu kasih ke hana, makasih atas pengalaman ilmu dan pengalaman guru yang hana terima dari ibu, makasih telah melahirkan faisal yang menyayangi hana apa adanya hingga saat ini, terimakasih bu, maafkan atas kesalahan hana selama ini, i love you bu, i love you so much... forgive for every mistake from me, i miss you, really miss you :*
13 mei 2014
yang merindukanmu ibu
teringat semua kebaikannya selama ini
baju, tas, sepatu aaah semua yang dia beri
terimakasih bu, maaf sekali hana belum berbalas jasa pada ibu
semoga Allah senantiasa melapangkan kubur ibu...
sampai saat ini menangis itu hal yang pasti ketika mengingat ibu
bahkan setiap hal kecil yang mengingatkan padanya sesak sekali didada
memang kematian hanya Allah yang kendalikan, kami hanya bisa berdoa untuk kebaikannya
pernah suatu ketika aku berandai-andai memohon pada Allah agar mengembalikan nyawa ibu, jangan secepat ini ya Rabb engkau ambil nyawa ibu
yah tapi Allah maha tau maha baik maha memberi yang terbaik untuk ibu
Allah sangat menyayangimu bu hingga engkau lebih cepat menghadap-Nya
semoga Allah melimpahkan semua rahmat dan karunia-Nya pada ibu amin
29 april tepatnya ibu wafat, khusnul khotimah tentunya (Amin), tapat hari itu aku berfikir bagaimana kedepannya tanpa ada ibu
bagaimana aku bertanya mengenai anak didiknya yang aku ajari les setiap sabtu
bagaimana aku bertanya apa yang harus ku ajarkan pada mereka
apa yang harus ku kembangkan dalam pembelajaran les ku
ah ibu ini terlalu cepat.....
aku merindukan mu ibu
bu sekarang tiap hana kerumah yang pertama kali dilihat adalah foto ibu disebelah kamar ibu
hana hanya bisa mendoakan ibu
maaf belum bisa memberi dan menunjukan yang terbaik hingga saat ibu wafat
bu, sekarang anak didik ibu nambah dua orang yang di les sama hana
aleum sama robi, sebenarnya banyak sekali yang mesti hana tanyain tentang mereka berdua
terimakasih bu, semua ini berkat ibu yang mempercayakan hana menjadi guru les anak didik ibu
makasih bu, setelah lidya, sami, dan alika, sekarang nambah robi dan aleum
rezeki yang Allah kasih lewat ibu, makasih bu terimakasih
banyak hal yang ingin hana sampaikan setelah kepergian ibu,
mengenai faisal anak bungsu ibu yang hana sayangi bu, doakan kita agar selalu dalam kebaikan ya bu, ridhoi kita semoga a isal bisa jadi imam hana amin
tentang teh isti dan teh ade bu, teh isti yang selalu merindukan ibu dalam keadaan apapun, teh ade yang sekarang hamil cucu ibu, fani agak rewel semenjak ibu pergi, bahkan anak-anak didik ibu yang selalu merindukan ibu
itu hanya sebagian kecil yang ingin hana bicarakan
semoga ibu tenang disana, dilapangkan kuburnya, diterangi kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur, ditempatkan ditempat yang paling indah dan dekat dengan Allah ... amin
bu, ini satu satunya foto yang hana punya buat ibu, maaf hana belum bisa membuat kenangan indah lebih banyak sama ibu, makasih atas segala kebaikan yang ibu kasih ke hana, makasih atas pengalaman ilmu dan pengalaman guru yang hana terima dari ibu, makasih telah melahirkan faisal yang menyayangi hana apa adanya hingga saat ini, terimakasih bu, maafkan atas kesalahan hana selama ini, i love you bu, i love you so much... forgive for every mistake from me, i miss you, really miss you :*
13 mei 2014
yang merindukanmu ibu
Minggu, 23 Maret 2014
Pengaruh Pendidik Muslim Pada Pendidikan Anak Usia Dini
Pengaruh Pendidik Muslim
Pada Pendidikan Anak Usia Dini
MAKALAH
Diajukan
untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata
Kuliah
Seminar Pendidikan Agma Islam
Dosen
Dra. Hj. Titing Rohayati, M.Pd

Oleh:
Oleh:
Dian Surya Aprilyanti 1103011
Irma Noffia 1105161
Rini Fitriani 1105963
V B PG-PAUD
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
KAMPUS CIBIRU
UNIVERSITAS
PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Banyak cara yang dapat dilakukan dalam
meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu cara dalam meningkatkan mutu
pendidikan adalah dengan meningkatkan kualitas dari tenaga pendidiknya. Seorang
pendidik adalah pigur yang memiliki pengaruh besar terhadap jalannya
perkembangan yang dilalui oleh anak,
keberhasilan seorang anak dimasa yang akan datang tergantung pada bagaimana cara lingkungan di sekitarnya
memberikan pengaruh terhadap kehidupannya. Oleh karena itu, penting bagi
seorang pendidik untuk mengetahui dan dapat mengimplementasikan berbagai metode
dalam mendidik anak.
Sejalan dengan pemaparan diatas, partisipasi guru
sebagai pendidik dapat dengan menggunakan metode yang digunakan oleh Rasulullah
saw. dalam mendidik sebagai contoh teladan guru. Pigur pendidik muslim memiliki peranan yang
sangat penting dalam pendidikan karena upaya dalam mendidik tidak hanya mengedapankan
keberhasilan didunia akan tetapi keberhasilan di akhirat. Hal ini sejalan
dengan Firma-Nya Qs. Al’ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ
أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ
كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Kebesaran
Allah swt. atas rahmat-Nya yang telah menciptakan seorang Rasul yang dapat
menjadi teladan hingga akhir jaman. Namun dalam perkembangan kehidupan yang
semakin berkembang dengan pesat, tidak sedikit umat manusia yang melupakan
Rasulullah saw. sebagai suri teladan. Kenyataannya, di dalam mendidik anak terkadang orang tua
atau pendidik mengalami kendala untuk membentuk kepribdian anak yang berakhlak
mulia. Hal ini terjadi karena anak mengalami masalah dalam dirinya yaitu anak
yang mengalami ketidaknormalan atau anak
normal tetapi menunjukkan perilaku yang bermasalah. Hal tersebut adalah berbagai tantangan bagi
pendidik untuk dapat memperbaiki akhlak-akhlak anak didiknya, selain
mengembangkan kemampuan intelektual anak didik. Diperlukanlah pigur pendidik
muslim yang dapat membantu serta memperbaiki akhlak, moral, budi pekerti dan
budaya-budaya hedonisme yang terjadi saat ini.
Dengan
demikian, penulis menyusun makalah ini sebagai salah satu media informasi
tentang pentingnya ”Pengaruh Pendidik Muslim pada Pendidikan Anak Usia Dini”.
Semoga pembaca khususnya calon pendidik dapat menjadi pigur pendidik muslim
yang berpengaruh bagi terciptanya pendidikan bangsa yang madani.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas,
penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana
metode Rasulullah saw. dalam mendidik?
2. Bagaimana
tugas pigur pendidik muslim dalam proses pembelajaran?
3. Bagaimana
sikap pigur pendidik muslim dalam menyikapi anak yang bermasalah?
C.
Tujuan
penulisan makalah
Sejalan dengan rumusan masalah diatas,
makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1. Metode
Rasulullah saw. dalam mendidik;
2. Menjelaskan
tentang tugas pigur pendidik muslim dalam proses pembelajaran;
3. Menjelaskan
sikap pigur pendidik muslim dalam menyikapi anak yang bermasalah.
D.
Manfaat
Penulisan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan dapat
memberikan manfaat baik itu secara teoritis maupun secara praktis. Secara
teoritis makalah ini bermanfaat sebagai pentingnya pigur pendidik muslim
dimiliki oleh para pendidik. Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat
bagi:
1. Penulis,
sebagai cara untuk menambah pengetahuan khususnya tentang pentingnya figure
pendidik muslim;
2. Pembaca/guru,
sebagai media informasi tentang pentingnya figure pendidik muslim baik secara teoritis maupun secara praktis.
E.
Metode
Penulisan Makalah
Metode yang digunakan dalam menyusun
makalah, mengumpulkan data, dan menganalisis data menggunakan teknik pustaka
artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang
relevan dengan tema makalah.
F.
Sistematika
Uraian
KATA PENGANTAR , DAFTAR ISI , BAB I PENDAHULUAN (Latar
Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penulisan Makalah, Manfaat Penulisan
makalah, Metode makalah, Sistematika Uraian), BAB II KAJIAN TEORI, BAB III
PEMBAHASAN (Metode Rasulullah saw dalam mendidik, Alasan figure pendidik muslim
penting dimiliki oleh seorang pendidik, Menjelaskan hambatan dan solusi bagi
seorang pendidik muslim pada masa kini), BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN (Kesimpulan,
Saran)
BAB
II
KAJIAN
TEORI
Dalam
Undang-Undang sistem pendidikan Nasional (2003) pasal 1 ayat 14 dinyatakan
bahwa Pendidikan anak Usia Dini merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan
kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan
jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut.
Tercapainya setiap
perkembangan anak merupakan cerminan dari keberhasilan pendidik dalam membimbingnya.
Menjadikan anak yang memiliki akhlak mulia akan sulit untuk diraih jika
pendidiknya sendiri tidak memiliki contoh teladan yang baik dalam mengajar.
Untuk itu, menjadi pigur pendidik muslim merupakan sosok yang harus dimiliki
oleh setiap pendidik. Arham (www.diatercinta.pun.bz/pengertian-muslim.com)
menyatakan “muslim berarti berserah diri”. Pendidik muslim merupakan pigur yang
membimbing, mengajar, dan melatih anak didik nya disertai niat hanya karena
Allah swt.
Rasulullah
saw. merupakan teladan terbaik bagi umat manusia. Semua umat muslim di dunia
mengenal bagaimana sosok Rasulullah saw. sesungguhnya. Oleh sebab itu sebagai
umat Islam kita patut untuk menjadikan Rasulullah saw. sebagai figur atau
referensi dari segala hal terutama dalam pendidikan Islam bagi anak. Ditegaskan
bahwa Rasulullah saw. adalah sosok penyabar, baik, suka menolong kepada
siapapun, penyayang, sehingga contoh terkecil yang dilakukan oleh Rasulullah
saw. adalah sebagai acuan cara mendidik anak dengan Islami. Hal ini sejalan
dengan Firman-Nya dalam Qur’an Surat Al-Anbiya:107
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya :“Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam. (qs.alanbiya:107)”
Dalam hadist-hadist
terpercaya yang telah dikumpulkan para ulama (Wendi Zarman 2011:158) menyatakan
bahwa metode pendidikan Rasulullah saw. dapat diterapkan dalam pendidikan dalam
rumah tangga ataupun di sekolah (1) menasehati melalui perkataan; (2) mendoakan
anak; (3)memberikan pujian sebagai motivasi; (4) memberikan kasih sayang yang
tulus; (5) mendidik dengan keteladanan. Sosok Rasulullah saw. memberikan petunjuk
bagi pendidik dalam hal mendidik anak. Hingga sebenarnya anak mendapatkan
haknya dalam memperoleh pendidikan dan pendidik dapat melaksanakan kewajibannya
dalam mendidik anak dengan baik. Allah swt. berfirman dalam QS.Ali Imran ayat
14
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ
النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya: “Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa- apa yang diingini yaitu wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis
emas, perak, kuda pilihan binatang-binatang ternak dan SAWah ladang.”
Sejalan
dengan ayat tersebut diterangkan bahwa anak adalah salah satu anugrah dari
Allah swt. sebagai titipan dunia yang harus dipertanggung jawabkan dalam segala
hal, termasuk dalam pendidikan. Islam
memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan anak sebelum ia
dilahirkan. Masa kanak-kanak dalam kehidupan manusia mempunyai kedudukan yang
sangat penting. Karena masa kanak-kanak merupakan umur-umur paling penting yang
didalamnya kepribadian anak terbentuk juga. Dari masa kecil pengendalian
keagamaan, pengetahuan terhadap hal-hal yang haram dan mubah pada diri seorang
anak telah terbentuk. Begitu pula dengan hati nuraninya dari sisi moral, sosial
dan emosionalnya. Hal itu karena anak mudah terpengaruh dengan lingkungan
sekitarnya terutama dari orang dewasa, yaitu anak cepat meniru, dan menerima
apa adanya masalah-masalah agama.
Sejalan dengan hal tersebut,
Rishelcha (www.blogspot.com)
menyatakan tugas khusus pendidik adalah “(1) Sebagai pengajar (instruksional) (2) Edukator (3) Pemimpin ( managerial) pakar lain menyebutkan Abdul mustaqim 2005 : 103 menyatakan
bahwa, tugas pendidik muslim dalam mendidik anak adalah (1) mengembangkan
perilaku moral pada anak (2) mengajarkan sopan santun kepada anak (3) memahami
bakat dan mengembangkan kreativitas (4) menumbuhkan dan meningkatkan minat baca
anak (5) mengurangi kemanjaan dan mendidik anak. Tugas bagi pendidik dalam
mendidik anak menurut Abdul Mustaqim 2005: 38 tentu tidak mudah, maka dari itu
seorang pendidik haruslah dapat menjadi sosok yang dapat diteladani anak
seperti (1) sabar (2) lemah lembut (3) luwes dalam bertindak dan (4) bersikap
moderat. Sikap pendidik tersebut akan terlihat dalam keseharian pendidik,
hingga anak akan meniru setiap langkah, dan gerak gurunya disadari atau tidak.
Cara
mendidik anak tidak hanya dilakukan oleh pendidik di sekolah, akan tetapi cara
mendidik anak juga harus selalu senantiasa dilakukan di luar sekolah atau rumah
yaitu oleh orang tua. Sehingga peran pendidik ataupun orang tua harus mampu
memberikan lingkungan yang cocok sehingga anak terdidik dan tumbuh dengan baik
di dalamnya. Sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah saw bahwa memberikan pendidikan
bagi anak harus dengan penuh kasih sayang. Di dalam pendidikan Islam itu bukan
hanya teori – teori saja yang diajarkan, akan tetapi implementasi secara
praktikum pun harus disampaikan dan diberikan kepada anak. Dengan contoh –
contoh yang baik, yang patut untuk ditiru oleh anak. Namun di dalam implementasinya, tidak jarang pendidik menemukan
masalah yang terjadi pada anak sehingga mengganggu pada proses perkembangannya.
Firman Allah swt. Dalam QS. At-taghabun ayat:15

Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu
hanyalah cobaan (bagimu) dan disisi Allah-lah pahala yang besar”.
Anak
dapat menjadi cobaan bagi orang tua di dunia untuk menguji keimanan kedua orang tuanya, diantaranya
ujian saat anak berprestasi ataupun anak yang bermasalah. Sehubungan dengan
ayat tersebut maka sebagai pendidik tentunya harus mengetahui bagaimana cara
untuk mengatasi anak yang bermasalah.
Abdul
Mustaqim 2005:145 mengemukakan tentang kiat-kiat menangani anak yang bermasalah
diantaranya (1) Bagaimana menangani anak yang malas, (2) Bagaimana menangani
anak yang suka berbohong, (3) Mengatasi rasa takut pada anak, (4) Jika prestasi
anak menurun, (5) mengatasi anak yang sulit belajar, (6) Mengatasi anak yang
sulit bergaul dengan teman sebaya. Anak sangat membutuhkan bimbingan dalam
menjalani kehidupannya, karena anak belum mengetahui konsekuensi dari perbuatan
atau perilaku yang dilakukannya, bimbingan dari pendidik dapat membawa anak
menjadi pribadi yang diharapkan sesuai dengan nilai dan norma yang ada.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Metode
Rasulullah saw dalam mendidik
Di dalam Firman-Nya telah ditegaskan
bahwa Rasulullah saw. merupakan teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Setiap
perilaku yang dilakukan oleh Rasul merupakan acuan bagi umat manusia dalam segala
hal, termasuk dalam pendidikan anak. Mengingat bahwa anak merupakan suatu
investasi masa depan maka sangat penting menyiapkan pendidikan anak yang
dimulai sejak dini. Tercapainya suatu pendidikan yang telah dirancang dengan
baik, tidak terlepas dari pigur yang mengimplementasikannya yaitu guru ataupun
orang tua melalui proses pembelajaran. Sehingga pigur pendidik muslim dalam
pendidikan menjadi penting keberadaannya. Metode Rasulullah saw. dalam mendidik
merupakan cara-cara yang dilakukan olehnya dalam mendidik anak. Melalui metode Rasul, pendidik dapat
mencontoh hal-hal yang dilakukan olehnya, mengambil pelajaran (ibrah) sehingga
pembelajaran yang diberikan pada anak akan bermanfaat dan menjadikan anak didik
memiliki akhlakul karimah. Berikut ini merupakan metode Rasulullah yang
diterapkan oleh pendidik muslim.
1.
Menasehati
melalui perkataan
Dalam Kamus Bahasa Indonesia,
nasehat adalah ajaran yang baik. Artinya bahwa menasehati anak adalah
mengajarkan kebaikan. Menasehati adalah cara paling mendasar dan sering
dilakukan oleh pendidik, oleh karena itu penting untuk diperhatikan bagaimana
cara yang baik untuk menyampaikan nasehat kepada anak. Untuk itu, ketika
menasehati penting untuk diperhatikan kedisiplinan dalam berbicara baik itu
kata-kata yang diucapkan, ataupun irama saat berbicara. Jangan sampai maksud
baik untuk menasehati memiliki pengertian yang salah bagi anak hanya karena
cara menyampaikannya yang salah. Allah swt menegaskan dalam Qur’an surat Luqman
tentang pendidikan dilihat dari nasehat-nasehat yang diberikan. Sebenarnya,
Luqman al-Hakim adalah seorang pria yang shaleh dan namanya diabadikan menjadi
nama surat dalam Al-Qur’an. Sebagai contoh, ketika menasehati anak supaya
bersikap sopan dan patuh terhadap orangtua, maka sampaikanlah dengan bijaksana
sehingga anak memahami bahwa menyayangi,mendidik, merawat, dan menjaganya dari
bahaya dilakukannya sepenuh hati tanpa mengaharapkan balasan apapun dari sang
anak. Hal ini sejalan dengan Firman-Nya dalam Q.S Luqman:13
Artinya : “Dan Kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-yapihnya dalam dua
tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
2.
Mendoakan
anak
Pada
waktu ibadah atau dalam keadaan apapun Rasulullah SAW adalah orang yang suka
berdo’a. Beliau banyak mendo’akan keluarga, sahabat-sahabat dan umat islam pada
umumnya. Dengan berdo’a bersungguh-sungguh kepada Allah SWT, niscaya Allah akan
mengabulkan do’a yang dipanjatkan hambaNya. Maka dari itu, pendidik tentunya
harus senantiasa mendo’akan anak didik nya supaya diberikan kebahagiaan baik di
dunia maupun di akhirat, karena sekeras apapun untuk mengupayakan keberhasilan
anak, pada akhirnya hanya Allah lah yang akan menentukan. Pendidik juga tidak
boleh lupa untuk mengajarkan anak supaya senantiasa berdo’a untuk dirinya
sendiri, meminta kepada kedua orang tua, kakek, nenek dan orang-orang yang
shaleh baik dikala ia dalam kesulitan ataupun dalam keadaan lapang. Dengan
mengajarkan anak untuk selalu berdo’a kepada Allah SWT telah menjadikannya
termasuk dalam golongan anak yang soleh, karena Allah SWT menyukai hamba-hamba
yang suka berdo’a kepada-Nya. Sejalan dengan Firman Allah SWT dalam QS.
Al-mu’minun [40]:60.
دَاخِرِينَ جَهَنَّمَ
سَيَدْخُلُونَ
عِبَادَتِي
عَنْ
يَسْتَكْبِرُونَ
الَّذِينَ
إِنَّ
ۚ
لَكُمْ
أَسْتَجِبْ
ادْعُونِي
رَبُّكُمُ
وَقَالَ
Artinya:“Berdo’alah kepada-Ku,
niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah (berdo’a) kepada-Ku akan
masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina”
Maha
Suci Allah dengan segala FirmanNya, sebagai pendidik penting untuk diingat
bahwa janganlah mendo’akan keburukan bagi anak. Terkadang dalam keadaan emosi
yang meluap-luap orang tua tidak sadar dan tidak berhati-hati sehingga
mengungkapkan suatu hal yang buruk, padahal hal itu dapat menjadi do’a yang
dikabulkan oleh Allah SWT. Misalnya ketika marah orang tua mengatakan “Dasar
kamu anak yang malas”, maka hal itu bisa saja dikabulkan Allah SWT sehingga anak benar-benar menjadi anak pemalas. Larangan mendo’akan keburukan
terhadap anak telah disampaikan oleh Rasulullah SAW. Beliau mengingatkan kepada
umat manusia supaya berhati-hati karena bisa saja Allah SWT mengabulkan
keburukan tersebut.
3.
Pujian
sebagai motivasi
Banyak
cara yang dilakukan oleh orang tua dalam memotivasi anak supaya menjadi giat
belajar. Mulai dari cara yang halus maupun tegas namun tetap saja tidak ada
perubahan dalam diri anak. Mungkin saja sebagian orang tua melakukannya dengan
mengiming-iminngi hadiah yang akan diberikan, sehingga membuat anak giat untuk belajar. Namun kenyataannya, ini
bukan hal yang mudah, untuk sementara waktu anak mau, semangat dan giat dalam
belajar, namun pada akhirnya begitu mendapatkan hadiah yang di inginkan,
kebiasaan belajar kian mengendor dan bahkan hilang. Hal ini membuat orang tua kehabisan akal dalam
memotivasinya. Maka dari itu, guru ataupun orang tua dapat mempraktikkan metode
memotivasi Rasulullah SAW yang sangat sederhana yaitu dengan memberikan pujian
tanpa menghilangkan esensi nasehat itu sendiri. Misalnya dengan mengatakan
“Nak, kau adalah anak yang sangat mandiri dan bertanggung jawab jika sehabis
main kamu membereskan kembali mainannya”. Pujian
ini akan memberikan efek yang berbeda dibandingkan dengan hanya menyampikannya
begitu saja, selain itu pujian ini akan membantu anak untuk mengidentifikasi
siapa dirinya. Jika seorang anak sering dipuji sebagai anak yang soleh maka ia
akan memandang dirinya memang soleh. Hal penting lainnya yang harus diingat
adalah memberikan pujian yang sewajarnya terhadap anak supaya tidak membuatnya
menjadi sombong.
4.
Kasih
sayang yang tulus
Menunjukkan
kasih sayang terhadap anak tidak harus selalu dengan ungkapan kata-kata,
melainkan dapat ditunjukkan melalui sentuhan-sentuhan fisik seperti memeluk,
mencium, merangkul, mengusap rambut, menggendong dan sebagainya. Hal ini telah
dicontohkan oleh Rasulullah SAW terhadap anak cucunya dan anak yang lainnya.
Beliau tidak segan untuk mencium, menggendong, dan merangkul anak-anak
dihadapan orang banyak sekalipun.
Memberikan ciuman terhadap anak
bukan hanya sebagi tanda kecintaan kedua orang tua terhadap anaknya, melainkan
dapat bernilai ibadah yang dapat mengantarkan orang tua menjadi ahli surga.
Sebagaimana Sabda Rasul yang artinya “perbanyaklah
kamu mencium anak cucumu, karena imbalan dari setiap ciuman adalah surga”.
Ada
3 manfaat yang yang dapat diperoleh dari sentuhan kasih sayang. Pertama akan mendekatkan jiwa orang tua dengan anak.
Kedekatan orang tua dengan anak dapat meningkatkan ikatan batin antar keduanya,
sehingga hubungan keluarga selalu tercipta harmonis. Kedua, adanya kepercayaan sehingga menjadikan anak selalu terbuka
kepada orang tua. Dengan begitu, anak akan selalu menjadikan orangtua nya
sebagai tempat bercerita pengalaman dan perasaannya. Hal ini dapat memberikan
keuntungan bagi orang tua untuk menilai perkembangan anaknya. Ketiga, akan memberikan dampak positif
terhadap perkembangan emosi anak.
5.
Mendidik
dengan keteladanan
Keteladanan merupakan pondasi dari
pendidikan. Pendidikan tanpa adanya keteladanan hanyalah suatu kemunafikan.
Artinya untuk mengajarkan suatu kebaikan haruslah dengan menunjukkan dan
mencontohkan perilaku baik pula, sehingga tidak berlainan dengan apa yang
dinasehatkannya. Pendidik penting untuk mewaspadai peneladanan anak di luar
rumah atau sekolah, karena anak dapat meneladani sesuatu hal yang seharusnya
tidak ditiru seperti teladan yang di tampilkan dari televisi, internet atau
film-film yang ditonton. Miasalnya anak meneladani idolanya, yang rambutnya
diwarnai, memakai perhiasan yang berlebihan, dan lain sebagainya. Oleh karena
itu pendidik perlu mencermati siapa yang
menjadi idola anak. Sebagai pendidik yang menjadi teladan perlu untuk memahami
prinsip-prinsip keteladanan. Pertama pigur
pendidik muslim teladan akan memiliki kepribadian yang kuat artinya pendidik
tersebut dapat menjadi seseorang yang memilliki keutamaan dimata anak didiknya,
sehingga pantas untuk diteladani. Kedua,
bagi pigur pendidik muslim keteladanan akan dilakukan secara alamiah, artinya
sifat-sifat teladan itu merupakan cerminan akhlak dari pendidik tersebut. Ketiga, keteladanan yang ditunjukkan
pigur pendidik muslim adalah bersifat konsisten.
Pada
dasarnya setiap anak memiliki pembawaan yang berbeda-beda, seperti memiliki
sifat pendiam, pemarah, cerdas, dan sebagainya. Sifat-sifat yang dimiliki anak
bergantung pada pola asuh yang diperoleh anak. Perbedaan karakter ini juga
memunculkan tanggapan yang berbeda-beda antara anak satu dengan yang lain,
seperti anak sudah mengerti dengan diberikan sedikit nasihat, anak sudah
mengerti dengan hanya melihat ekspresi orang tuanya, namun ada juga anak yang perlu diingatkan
dengan keras untuk membuatnya mengerti. Perbedaan karekter ini membutuhkan
pendekatan pendidikan yang berbeda pula, namun dalam Islam pigur pendidik
ditekankan untuk lemah lembut dan ramah tamah dalam mendidik anak. Sehingga
pemberian hukuman dan penghargaan
merupakan sesuatu hal yang lazim dialami anak atas perilakunya, hal ini
sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Maryam ayat 97
Artinya:
“maka sesungguhnya telah kami mudahkan al-qur’an itu dengan bahasamu
agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan al-qur’an itu kepada orang-orang yang bertaqwa,
dan agar kamu memberi peringatan dengannya
kepada kaum yang membangkang.”
Maha suci Allah SWT dengan segala
firmannya, meskipun demikian dalam konteks pendidikan Rasulullah SAW, terbilang
sangat jarang menghukum dan cenderung sering memberi penghargaan. Pernyataan
ini menjadi tolak ukur bagi pigur pendidik muslim bahwa pendidik lebih baik
membrikan penghargaan kepada anak dari pada hukuman. Pigur pendidik muslim
sebaiknya mengetahui prinsip dalam memberikan penghargaan kepada anak seperti
pemberian penghargaan tidak harus berupa materi, penghargaan yang diberikan
karena proses bukan hasil, penghargaan tersebut tidak harus mengikuti keinginan
anak, berikan penghargaan sepantasnya dan tidak berlebihan, dan pendidik harus
memberikan penghargaan yang telah dijanjikan kepada anak.
Hukman bukanlah hal yang diharamkan
diberikan kepada anak, adapun dalam memberikan hukuman kepada anak sebaiknya
pigur pendidik muslim sebaiknya mengetahui prinsip dalam memberikan hukuman,
sepertti memberi tahukan kesalahan anak, memberikan hukuman secara bertahap,
tidak mengatakan kata-kata kasar, pendidik tidak sepenuhnya menyalahkan anak
atas kesalahannya karena pendidik ikut andil dalam mendidik anak, hukuman yang
diberikan sesuai atas dasar perilaku anak, konsisten dalam menghukum dan
hukuman yang diberikan adalah bertujuan untuk memperbaiki perilaku anak.
B.
Tugas-Tugas
Pendidik Muslim Dalam Proses Pembelajaran
Setiap
makhluk hidup di dunia ini memiliki hak dan kewajiban sesuai dengan perannya
masing-masing. Pendidik merupakan salah satu pigur yang amat sangat ditiru oleh
anak didiknya, sehingga adanya suatu kewajiban untuk menciptakan perilaku yang
baik yang dapat ditiru oleh anak didiknya. Kewajiban seorang pendidik
diantaranya yaitu mendidik, membimbing, mengajar serta tanggung jawab terhadap
tugas yang dipeganggnya sebagai guru.
Tugas pendidik itu pun tidak hanya dilakukan oleh guru saja akan tetapi
orang tua pun ikut andil dalam peranan kehidupan anak. Menjadi seorang pendidik
tidaklah mudah apalagi untuk menjalankan tugas apa yang harus dikerjakannya,
pendidik harus mampu terjun langsung dalam kehidupan anak, menyelami kehidupan
sehari-hari anak. Begitupun sebagai pendidik muslim memiliki tugas bagaimana
cara mendidik anak dalam proses pembelajaran dengan baik, karena menjadi pendidik yang baik termasuk syarat
utama yang akan membantu jalannya suatu pendidikan.
Dengan
adanya pendidik muslim, maka akan menciptakan anak didik yang memiliki budi
pekerti yang baik, karena di dalam pendidikan yang penuh akan kasih sayang, perhatian yang
tulus, dan bimbingan yang islami akan
membentuk perilaku serta sikap anak yang sesuai norma dan ajaran agama.
Kesuksesan dalam mendidik sangat terlihat dari seorang pendidik itu sendiri.
Bagaimana kemampuan pendidik menjalankan tugasnya dengan baik dalam proses
pembelajaran. Maka sebagai pendidik harus memiliki sifat-sifat yang baik dalam
membimbing dan mendidik anak. Sifat-sifat yang tentunya membawa pengaruh
positif terhadap perkembangan kehidupan anak didiknya.
Pendidik dalam islam bertanggung jawab terhadap
perkembangan peserta didik dalam mengembangkan potensinya serta pencapaian tujuan
dari aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Menjadi pendidik
muslim harus mampu membentuk pribadi anak yang shaleh, membentuk perilaku anak
ke arah yang positif sehingga anak mampu untuk menyesuaikan diri di dalam
limgkungannya serta mampu diterima di lingkungannya. Selain itu juga pendidik
harus mampu mengembangkan
profesionalitas diri sesuai perkembagan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, dan pendidik juga sebagai pengganti orang tua anak selama berada di dalam lingkungan
sekolah.
Dari beberapa penjelasan
di atas maka adapun beberapa tugas pokok sebagai pendidik muslim dalam proses
pembelajaran anak, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al baqarah ayat 129
رَبّـَنَا وَابْعَثْ فِـيْهِمْ رَسُـوْلًا مِـنْهُمْ
يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ اَيَااتِـكَ وَيُـعَلِّمُهُـمُاالكِتـاَبَ
وَالحِكْمَةَ
وَيُزَكِّـهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيْزُ الحَكِيْم ُ
Artinya : “Wahai Tuhan kami, Bangkitkanlah dari kalangan anak kami seorang
rasul, yang membacakan kepada
mereka tentang ayat-ayat Mu, dan mengajari mereka tentang kitab dan hikmah, serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.
Maka dari itu dapat disimpulkan beberapa tugas pendidik muslim diantaranya
adalah sebagai berikut.
1. Sebagai pengajar (instruksional)
Merencanakan program pengajaran. Pada tugas ini seorang
pendidik merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang telah
disusun yang diakhiri dengan pelaksanaan penilaian setelah program usai
dilakukan.
2. Edukator
Mengarahkan ke tingkat kedewasaan menuju kepribadian
insan kamil, seiring dengan tujuan Alloh SWT menciptakannya. Pendidik memberikan pengetahuan yang sebelumnya anak tidak mengetahui
menjadi tahu, menjadikan anak menuju kedewasaan baik dalam berpikir ataupun
bertingkah laku.Dalam mengarahkan kedewasaan anak dalam kehidupannya harus
diiringi dengan pendidikan yang islami sehingga perilaku anak dalam menuju
kedewasaan dapat menunjukan sikap dan perilaku yang positif.
3. Pemimpin (Managerial)
Memimpin dan mengendalikan diri sendiri, peserta didik
serta masyarakat yang terkait, terhadap masalah yang menyangkut upaya
pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan partisipasi atas program
pendidikan yang dilakukan.
4.
Mengembangkan
perilaku moral pada anak
Terbentuknya perilaku anak adalah
dari lingkungan keluarga yaitu orang tua. Anak dididik dibesarkan pertama
kalinya oleh orang tua, jadi tingkah laku ataupun kejaadian yang diperlihatkan
anak adalah akibat dari pola asuh keluarga. Keluarga islami yang mampu mendidik
anak dengan baik maka akan menciptakan perilaku, moral anak yang baik pula.
Pada dasarnya manusai memiliki kesamaan pola perkembangan moral, seperti pada
awal kehidupannya yang mencerminkan nilai moral, seperti sabda Rasulullah saw,
beliau bersabda “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan
akhlak” (HR AHMAD). Sebenarnya manusia telah memiliki potensi perilaku moral,
hanya saja masih perlu disempurnakan. Maka dari itulah pentingnya tugas seorang
pendidik untuk membentuk tingkah laku anak, sehingga anak memiliki moral yang
baik yang sesuai dengan aturan dan norma di mana anak itu berada.
Berkaitan dengan upaya mengembangkan
perilaku moral anak, ada beberapa cara yang harus ditempuh oleh orang tua,
yaitu.
a.
Menciptakan
kasih sayang dan kehangatan.
Kasih sayang yang diberikan orang
tua ataupun guru sangat mempengaruhi perilaku moral anak. Curahan kasih sayang
dari pendidik terutama orang tua akan berdampak positif terhadap perkembangan
perilaku moral anak, kamungkinan tindakan untuk anak melakukan kejahatan
seperti mencuri jauh lebih kecil dibandingkan dengan anak yang dibesarkan oleh
orang tuanya dengan penuh kekerasan. Hal ini menunjukan bahwa sangatlah penting
akan pendidikan di usia dini.
b.
Menjadi
teladan yang baik.
Orang tua baik guru yang biasanya
menunjukan teladan baik di lingkungannya, maka akan ditiru oleh anaknya. Hal
positif ini akan mengembangkan pergaulan yanng positif juga di dalam
kehidupannya. Anak kecenderungan banyak meniru dari lingkungan yang ia lihat,
apa yang ia dengar. Maka sebagai pendiik harus mampu memberikan contoh perilaku
moral yang baik terhadap anak, misalnya jika ada orang yang terjatuh maka orng
tua harus memberikan contoh dengan menolong orang tersebut, atau contoh kecil
yang mudah dilakukan anak sehari hari adalah dengan membunag sampah pada
tempatnya, maka anak kan meniru apa yang ia lihat.
c.
Mengajarkan
disiplin dan empati.
Disiplin yang dilakukna oleh orang
tua ataupun guru dapat berfungsi sebagai upaya untuk memberikan pelajaran
empati kepada anak. Misalnya melarang anak untuk melakukan sesuatu dengan
memberikan alasan yang jelas bahwa jika ia melakukan itu maka akan membahaykan
orang lain. Namun dalam mengajarkan disiplin terhadap anak tidak dengan
menggunakan kekerasan. Contoh kecil lainnya mengajarkan disiplin bangun pagi,
mandi dan belajar membereskan tempat tidur sendiri, sehingga dengan
kebiasaan-kebiasaan terseebut akan terbentuk dalam diri anak.
5.
Mengajarkan
sopan santun kepada anak
Pada dasanya anak sejak lahir belum
mengetahui mana yang buruk dan mana yang baik, mana yang harus mereka lakukan
dan mana yang harus untuk tidak mereka lakukan, begitupun pada anak yang masih
kecil ia belum mampu mengerti bagaimana untuk membedakan cara berperilaku
terhadap teman sebaya ataupun terhadap yang lebih tua. Maka dari itu pendidikan
dari seorang penidik baik itu dari orang tua ataupun guru amat sangatlah
penting untuk membimbing dan mendidik agar anak mampu berperilaku sopan santun
terhadap orang lain. Agar anak memiliki
sikap hormat dan sopan santun pendidik baik orng tua ataupun guru harus
berusaha keras untuk menanamkan nilai-nilai akhlak melalui pendidikan
keteladanan, baik di rumah ataupun di luar rumah. Pendidik membiasakan kepada
anak untuk berbicara yang baik terhadap teman sebaya atau terhadap orang yang
lebih tua. Misalnya anak diajarkan untuk bersalaman kepada tamu “ nak ini ada
teman ibu yu salaman dulu sama tante”. Dari contoh terkecil dengan adanya suatu
kebiasaan maka akan menjadikan anakpun terbiasa untuk melakukan hal tersebut.
Tidak hanya di rumah, di sekolah pun anak dibiasakan untuk bersalaman dengan
guru-gurunya dan mengucapkan salam.
Adapun bebrapa langkah yang dapat
dilakukan pendidik agar anaknya menjadi pribadi yang sopan dan santun, yaitu :
a.
Membangun
hubungan yang positif dengan anak.
Lingkungan yang baik di rumah
ataupun sekolah yang santun, santai dan penuh kelembutan akan berpengaruh
terhadap sikap anak. Dengan kata-kata yang lembut, sikap yang lembut akan
menjadikan anak menjadi sopan dan menghormati orang lain terutama orang tuanya.
Misalnya ketika orng tua mengajak anaknya mandi dengan kata-kata lembut dan
enak di telinga naak, “Nak ayo cepat mandi ya supaya tidak terlambat”. Dengan
kata-kata itu maka anak akan menurutinya karena kelemah lembutannya. Pujian,
dan ucapan terima kasih akan mendoorng niat anak untuk terus bersemangat.
b.
Menanamkan
sikap ramah dan sopan santun.
Tanamkanlah sikap ramah dan sopan
santun melalui keteladanan. Pendidik adalah cermin bagi anak-anaknya. Jika
orang tua atau guru mampu menjadi teladan yang baik, maka anak akan meniru
sikap dari orang tua dan gurunya tersebut.
6.
Memahami
bakat dan mengembangkan kreativitas
Semua anak yang lahir ke dunia ini
sudah membawa takdir dari Illahi Robi, begitupun dengan anak ketika lahir ke
dunia ini mereka sudah membawa bakat, potensinya masing-masing. Bakat atau
potensi sudah bisa dimonitor sejak masih bayi. Karena bayi baru lahir belum
bisa melakukan apa-apa, maka orang tua berkewajiban untuk memonitor dan
mengembangkan bakat anak sejak masih bayi. Agama juga menjelaskan bahwa anak
lahir dalam keadaan suci dan akan jadi apa anak itu kelak, tergantung bagaimana
orng tua membimbingnya. Sebagai pendidik di sekolah seorang guru harus mampu
untuk memahami bakat dan potensi setiap anak, mampu mengembangkan bakat dan
potenmsinya sesuai dengan perkembangannya masing-masing.
Terkadang ada beberapa anak yang
memiliki bakat terpendam di dalam dirinya, maka tugas pendidik adalah dengan
mengembangkan kompetensinya. Bakat, keterampilan, prestasi anak akan berkembang
secara optimal, jika anak memiliki
kompetensi yang baik. Anak yang memiliki kompetensi tinggi akan mudah belajar
dari lingkungan, mempelajari keterampilan-kterampilan baru, dan mudah
beradaptasi. Semua ini merupakan modal awal untuk mengembangkan bakat anak yang
masih terpendam dari diri anak. Selain bakat, pendidk juga harus mampu
mengembangkan kreativitas anak. Kreativitas akan berkembang dengan baik jika
dipupuk dari sejak usia kanak-kanak.
Pendidik mengembangkan kreatifitas
anak dapat dilakukan dengan membentuk pengalaman belajar sesuai dengan rasa
ingin tahu alamiah anak dengan masalah yang relevan dan sesuai kebutuhan anak.
Memberikan pengalaman yang nyata dengan kehidupannya yang menuntut peran aktif
pada anak. Dorong dan hargai inisiatif dan rasa ingin tahu anak terhadap
sesuatu. Biarkan anak belajar dari kesalahannya dan menerima akibatnya. Dan
yang terakhir pendidik harus menghargai dan memuji usaha anak.
7.
Menumbuhkan
dan meningkatkan minat baca anak
Biasakan anak untuk menyukai
cerita-cerita, dongeng-dongeng yang akan memancing anak untuk senang membaca.
Sebenarnya minat baca anak bisa dipupuk sejak anak belum lahir, yaitu sejak
masih dalam kandungan. Misalnya dengan diperdengarkan bacaan ayat-ayat suci
AL-Quran, shalawat Nabi Saw, dzikir dan senanndung. Namun upaya ini harus terus
berlanjut sampai anak lahir hingga anak mampu mnegenal kata, berbicara mampu
membaca dan memahami bacaan. Selain itu juga berikan situasi yang menyenanggkan
ketika anak membaca, atau bahkan bisa dengan adanya ilustrasi pada buku sebagai
upaya agar anak mampu berfantasi. Kemudian memberikan buku-buku yang disukai
anak.
8.
Mengurangi
kemanjaan dan mendidik anak dengan baik
Memberikan kasih sayang terhadap
anak secara berlebih akan membentuk anak yang penuh dengan kemanjaan, misalnya
dengan selalu memberikan apa yang anak inginkan, terlalu membiarkan anak bebas
dalam bergaul sehingga anak akan menjadi pribadi yang tidak mandiri dan manja.
Pendidik harus mampu memberikan kasih sayang, perhatian yang sewajarnya
terhadap anak.
Dari beberapa penjelasan diatas
diketahui bahwa banyak sekali tugas yang harus dilakukan oleh pendidik baik
sebagai orang tua ataupun sebagai guru, karena dengan adanya didikan, bimbingan
yang baik akan menghindarkan anak dari perilaku-perilaku yang kurang baik.
Apabila dilihat dari tugas-tugas sebagai pendidik msulim, maka seorang pendidik
itu sendiri harus memiliki sifat-sifat yang baik yang patut untuk ditiru oleh
anak.
Adapun
bebrapa sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pendidik diantaranya sebagai
berikut.
a.
sabar
Kesabaran
merupakan sifat utama yang harus dimiliki oleh pendidik. Karena dengan
kesabaran akan menciptakan jiwa pendidik yang dewasa ketika menghadapi suatu
masalah anak didiknya. Melalui kesabaran akan memahami keinginan anak didiknya,
dan anak didik pun akan memahami apa yang diharapkan pendidiknya. Hal ini
sejalaan dengan firman Allah swt dalam QS Alfushilat ayat 35.
وَمَايُلَقَّاهَاإِلَّاالَّذِينَصَبَرُواوَمَايُلَقَّاهَاإِلَّاذُوحَظٍّعَظِيمٍ
Artinya:
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
sabar dan tidak dianugerahkan melainkan yang mempunyai keberuntungan yang besar.
Faktor yang terpenting dalam
mengajar adalah kesabaran dari dalam jiwa pigur pendidik muslim, tanpa adanya
suatu kesabaran mungkin kekacauan akan terjadi dalam proses pembelajaran ketika
ada anak yang bermasalah atau berkelahi dengan temannya. Maka dari itu
kesabaran harus dimiliki oleh setiap pendidik baik itu guru ataupun orang tua,
dengan kesabaran insyaallah akan mendapatkan keberuntungan cukup besar.
b.
Lemah
lembut
Selain dari kesabaran, pigur pendidik
muslim juga harus memiliki sifat lemah lembut terhadap anak didiknya, karena
dengan kelemah lembutannya akan mejadikan anak patuh terhadap gurunya atau
orang tua, jika dibandingkan dengan pendidik yang memiliki sifat kasar mungkin
akan menjadikan anak tidah patuh bahkan takut untuk berhadapan dengan kita.
c.
Luwes
dalam bertindak
Pigur
pendidik muslim sepatutnya bersikap luwes setiap kali menghadapi anak didiknya.
Dengan adanya sikap luwes akan membantu proses penanganan setiap masalah anak
didik. Contoh keluwesan dapat tercermin dengan sikap bijak ketika menghadapi anak didiknya. Ketika
pendidik menyuruh anak didiknya dengan ajakan yang penuh perhatian. Misalnya
“Nak yu kita simpan sepatunya di rak sepatu biar rapih ya”. Dengan ajakan
seperti itu anak akan merasa diperhatikan karena menyurhnya tidak dengan
paksaan.
d.
Bersikap
moderat
Sikap
berlebihan merupakan perbuatan tercela dalam urusan apapun. Karena itu Nabi Saw
lebih menyukai sikap moderat dibandingkan sikap berlebihan dalam pandangan
agama. Hal ini patut diterapkan dalam pendidikan anak usia dini. Pendidik yang
bersikap moderat tentunya akan dikagumi oleh anak didiknya sehingga anak akan
menirunya misalnya dalam berpenampilan yang anggun dan sederhana akan membuat
anak untuk meniru, dibandingkan dengan sikap yang berlebihan, karena dengan
sikap yang berlebihan juga akan membuat anak diddik menjadi berlebih pula.
C.
Pigur
Pendidik Muslim dalam Menyikapi Anak Yang Bermasalah
Firman Allah SWT menegaskan dalam QS.
At-Tahrim ayat 6
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا
النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ
اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka”.
Anak adalah sosok harapan bagi orang
tua, dititipkan oleh Allah, SWT kepada orang tua. Namun tugas mengasuh dan
mendidik anak bukan hanya tugas orang tua, keluarga dan masyarakat juga ikut
mempengaruhi perkembangan anak secara fisik dan psikis. Dalam proses
perkembangan anak, tentu banyak hal yang terjadi baik positif dan negatif. Hal
positif dan negatif yang terjadi pada anak tersebut dapat menjadi pelajaran dan
pengaruh pada anak. Tidak jarang anak melewati hal-hal negatif yang tidak
diharapkan oleh orang tua, hal-hal tersebeut adalah sebagai berikut.
1.
Anak
yang malas
Banyak
hal yang menyebabkan anak menjadi malas,
pertama mungkin anak tersebut belum mengerti manfaat dari sikap rajin
dan bahaya dari sikap malas bagi masa depannnya. Kedua karena adanya pengaruh
lingkungan pergaulan. Ketiga kemungkinan anak merasa jenuh dengan
kegiatan-kegiatan karena tidak ada refreshing. Dalam Hadist Usman bin Affan
mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda “ tidur pada waktu subuh (awal siang)
akan mencegah datangnya rezeki ” (HR Ahmad). Selain itu Nabi saw juga suka
mengajak anak-anak muda untuk memanfaatkan waktu luangnya untuk hal-hal yang
bermanfaat, seperti belajar memanah, berolahraga, berkompetensi dan sebagainya.
Selain itu Nabi Muhammad saw juga
menganjurkan anak-anak muda untuk menggunakan waktu luangnya dengan beribadah
hanya kepada Allah swt. Hal ini agar menjadi kebiasaan bagi mereka bagaimana
cara untuk memanfaatkan waktu yang sebenar benarnya. Secara umum ada dua
kemungkinan mengapa anak menjadi super malas. Pertama mungkin kondisi fisiknya
yang tidak beres. Kedua mungkin anak memiliki masalah atau pikiran yang belum
terselesaikan. Sehingga membuat pikiran anak tidak fokus dan malas. Anak dapat
dibentuk menjadi sosok yang giat, sejak anak usia dini. Saat anak mulai masuk
Pendidikan Anak Usia Dini, anak sudah mulai dibiasakan dengan kegiatan
bermanfaat di sekolah. Anak juga akan terbiasa bangun pagi karena harus
siap-siap ntuk berangkat ke sekolah.
2.
Anak
yang berbohong
Selain malas, masalah yang kerap
muncul pada anak adalah berbohong. Nabi saw bersabda “ tanda-tanda orang munafik ada tiga, jika
bicara ia berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berhianat”
(HR AL- Bukhari dan Muslim). Faktor yang menyebabkan anak yang suka berbohong
adalah faktor internal dan faktor eksternal.Faktor internal yang membuat
anak
berbohong
diantaranya.
a) Rasa ingin tahu anak
Anak tidak tahu bahwa itu perilaku berbohong, dan
anak
sengaja
untuk
berbohong.
Rasa ingin
tahu
adalah
salah
satu
karakteristik
anak.Anak yang belum
pernah
berbohong, dan memiliki rasa ingin tahu untuk berbohong, akan
melakukannya
tanpa
memikirkan
apa
konsekuensi yang akan di
dapat dari hal tersebut. Peran
pendidiklah yang dapat
meluruskan
dan
membimbing
anak, jika
anak
melakukan
hal yang menyimpang.
Berikanlah pengertian bahwa hal tersebut adalah perilaku yang
tidak
boleh
dilakukan
anak.
b)
Anak
tidak
tahu
bahwa
itu
adalah
perilaku
berbohong, hingga
anak
melakukan
hal
tersebut.
Pendidik yang baik
tidak
akan
mengajarkan
berbohong
kepada
anak, hingga
saat
anak
berbohong
dan
ia
tidak
mengetahui
bahwa
hal
tersebut
adalah
keliru. Pendidik
dapat
memberikan
pegertian
dan stimulus untuk
berlaku
jujur
dengan
berbagaicara, misalnya
melalui
cerita
atau
contoh-contoh yang ada di
sekitar
anak.
c)
Anak
sengaja
untuk
berbohong,
Bisa saja terjadi jika anak tersebut merasa ada pada posisi yang ter
sudutkan, tidakaman, dan
tertekan
atau
anak
sudah
senang
dengan
perilaku
berbohong, misalnya
karena
takut
dimarahi orang tua. Saat
pendidik
mengetahui
hal
ini, pendidik
bertugas
memberikan
tindakan
dan
larangan yang tegas
namun
penyampaiannya
lembut
hingga
anak
mengerti
untuk
tidak
mengulangi perbuatannya lagi.
Faktor eksternal yang membuat
anak
berbohong
diantaranya.
a)
Tidak konsisten dalam menanamkan
kejujuran kepada
anak.
Hal tersebut memunculkan kebingungan kepada anak. Anak akan berpikir bahwa berbohong boleh dilakukan sesekali dan sesekali juga berbohong tidak boleh dilakukan. Dari pernyataan tersebut, maka
inilah yang diperlukan
pendidik
dalam
mendidik
anak, yaitu ‘konsistensi’.
Konsistensi dapat membuat anak menjadi pribadi yang tegas
dan
memiliki
pendirian yang kuat.
b)
Mendidik
dengan kekerasan kepada
anak,
Cara ini akan membuat anak merasa tidak aman tidak percaya kepada orang lain dan membentuk perilaku anak menjadi tertutup, karena
mendidik
anak
dengan
kekerasan
akan
menyakiti
fisik
dan
psikis
anak.
Akibatnya
perilaku
tertutup
tersebut
akan
mendektkan
anak
pada
berbohong,anak
tidak
tahu
harus
jujur
kepada
siapa, karenaadanya rasa
tidak percaya pada anakt ersebut. Sebagai
pendidik
anak
usia
dini, kita
harus
mampu
menyediakan
diri
untuk
dapat
memenuhi rasa aman, kasih
saying
dan
perlindungan yang
dibutuhkan
anak.
c)
Sikap orang tua yang kurang adil,
Sikap ini akan membentuk perilaku anak yang serbasalah, rendah
diri, dan
merasa
dikucilkan
.Anak
akan
lebih
dekat
dengan
berbohong
daripada
kejujuran, tujuan
anak
tersebut
adalah
untuk
menutupi
kesalahannya
dengan
berbohong. Anak
akan
berusaha
menjadi
sosok yang diinginkan orang
tua, walaupun dengan jalan berbohong. Pendidik yang baik, akan
ikhlas
dalam
mendidik
setiap
anak, akan
menghargai Allah SWT,
sebagai pencipta maha sempurna. Keikhlasan
tersebut
akan
mencerminkan
perilaku yang adil
kepada
setiap
anak
didiknya.
3. Anak dalam perkembangannya juga
mengalami rasa takut.
Dalam pandangan agama rasa takut
adalah fitrah manusia yang harus dikembangkan ke arah yang positif, misalnya
takut kepada Allah swt, takut berbuat salah, dan takut menyakiti orang lain.
Faktor penyebab anak menjadi penakut adalah sebagai berikut.
a)
Orang tua yang suka menakut-nakuti, yang bertujununtuk agar anak
dapat
menuruti
perkataan orang tua. Namun
dampak negative dari
perlakuan
tersebut
adalah
anak
menjadi
ragu
dalam
melakukan
sesuatu, tidak
memiliki
pendirian
dan
memiliki
sugesti
takut
pada
berbagai
hal. Pendidik
diharapkan
senantiasa
menggunakan
kalimat yang dapat
meningkatkan
kewaspadaan
anak, bukan yang menyebabkan
anak
menjadi
penakut.
b)
Orang tua keliru dalam menyikapi
ketakutan, seperti
menyeplekan
atau
sebaliknya, sangat
mengelu-elukan
ketakutan
anak, contohnya
tidak
jarang
bayak
anak
dan orang dewasa yang takut
buah. Hal tersebut
dapat
terjadi
karena
kebiasaan orang tua yang
terlalu mengelu-eluka nketakutan seseorang terhadap buah saat ia masih kanak-kanak.
c)
Orang tua baik sadar maupun tidak sadar
memeberikan andil kepada anak untuk mengisolasi diri. Perlakuan pendidik, memang
tidak
selalu
tepat
dalam
mendidik
anak. Hingga
sada
rataupun
tidak, orng
tua
ikut
andil
membuat
anak
mengisolasi
diri, seperti
akibat
dari
larangan
anak
untuk
pergi
bermain, atau
untuk
tidak
sering
keluar
rumah. Akibatnya
anak
akan
merasa
asing
dengan
dunia
luar, dan
lebih
memilih
mengisolasi
diriuntuk
berdiam di rumah.
d)
Orang tua suka menceritakan kisah-kisah
misteri.Kisah-kisah
misteri
wallahu’allam
benar
atau
tidaknya
terjadi. Namu orang tua
biasanya
menceritaka
nkisah
misteri
pada
anakb
ertujuan agar anak
waspada
dan
takut
untuk
melakukans
esuatu. Kisah
misteri yang tidak
mendidik, sebaiknya
tidak
diceritakn
oleh
pendidik, Karena
akan
mempengaruhi
terhada
pperkembangan
pemikiran
anak yang masih
bersih
dan
polos.
Rasa takut
pada
anak
dapat
diatasi
dengan berbagai cara, seperti.
Mengajari
anak keimanan yang benar kepada Allah swt, memberi kebebasan kepada anak untuk
melakukan perbuatannya dan memegang tanggung jawab menurut kemampuan usianya, jangan mnakut-nakuti anak dengan hal-hal yang tidak
perlu
seperti
ucapan ‘takut
ada
laba-laba’, mengajari
anak untuk senang berteman,dan
mengajari
anak untuk meneladani Rasulullah
4.
Orang tua menggantungkan harapan terhadap anaknya, salah satu harapan orang tua
terhadap anak adalah memiliki prestasi yang baik.
Hal utama yang harus dilakukan
supaya prestasi anak dapat dipertahankan yaitu, orng tua harus menyusun jadwal
belajar yang benar dan berusaha mengambil jeda sebentar diantara waktu-waktu
belajarnya. Menciptakan suasana pembelajaran yang menyangngkan dan
menggairahkan dan memberikan motivasi (Targhiib) ataupun memberikan cerita
tentang orang-orang yang sukses sebagai upaya untuk menyemangati anak untuk dapat lebih giat belajar.
5. Masalah yang biasa muncul pada
anak adalah sulit belajar.
Untuk mengidentifikasi gangguan
belajar pada anak dapat melakukan test perseorangnan yang dirancang untuk
mengetahui apakah hubungan anak dengan orang tua cukup baik, apakah anak tidak
mau belajar sebagai reaksi oposisi terhadap sikap otoriter pendidikan atau orang-orang di sekitarnya,
apakah tuntutan orang tua terlalu tinggi
dan apakah anak selalu dikritik sehingga ia tidak mau mengambil resiko
kegagalan. Di samping itu orang tua harus selalu berdoa kepada Allah swt supaya
anak mereka menjadi cerdas seperti memanjatkan surat Alfatihah setelah selesai
shalat, dan yang harus diingat adalah bahwa setiap anak terlahir dengan potensi
kecerdasan yang berbeda-beda seperti yang telah dikemukankan oleh Howard
Gardner.Anak
adalah
makhluk yang memiliki
hati
nurani, sehingga
pendidik
juga
harus
memperlakukanny
adengan
sebaik-baiknya, tidak
memaksaka
nsesuatu yang anak
tidak
mampu, dan
tidak
selalu
menyalahkan
atau
menuntut
anak.
6. Mengatasi anak yang sulit
bergaul dengan teman sebaya.
Jika anak mengalami kesulitan dalam
bergaul atau mengenal orang lain maka ada beberapa cara supaya anak senang
bergaul dengan teman sebayanya, yaitu sebagai berikut.
a).
Menunjukkan pada anak manfaat pergaulan yang positif. Agar anak
tertarik
dan
mau
untuk
bergabung
dengan
anak lain. Orang tua
dapat
mendukung
anak
pada
kegiatan
tersebut, dan
pendidik
atau guru di sekolah
dapat
menyelenggarakan
kegiatan yang dapat
membuat
anak
tertarik
untuk
ikut
berpartisipasi.
b).
Mendorong anak untuk berperan dalam keluarga, seperti melibatkan anak pada kegiatan rumah. Seperti
anak
perempuan
dilibatkan
untuk
memasak, anak
laki-laki
dilibatkan
untuk
mengurusi
ternak. Sehingga
anak
merasa
dirinya
bertanggungjawab
dan
ada
keterlibatan
dalam
keseharian.
c).
Mendorong anak bergabung dalam kelompok khusus, seperti kelompok bimbel atau kelompok pengajian. Hal tersebut
akan
membuat
anak
senang
berorganisasi
dan
berinteraksi
dengan orang lain. Akan
senang
bergaul
dengan
orang lain.
d.)
Mencari kelompok pelatihan keterampilan sosial, hingga anak dilatih untuk bersosialisasi
dan
dapat
menerima
keberadaan orang lain yang
ada di luar dirinya.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bersadarkan
pembahasaan di atas maka penulis dapat mengemukakan kesimpulan mengenai
pengaruh pendidik muslim pada pendidikan anak usia dini adalah sebagai berikut.
1. Mendidik
anak bukanlah suatu hal yang mudah, akan tetapi mendidik anak membutuhkan cara.
Cara yang dapat dilakukan dalam mendidik anak dapat mengacu atau melihat pada
metode Rasulullah saw. karena metode Rasulullah saw. adalah metode yang paling
baik untuk membawa anak pada kebaikan dunia dan akhirat. Metode-metode tersebut
yaitu, (a) Menasehati melalui perkataan, (b) Mendoakan anak, (c) Pujian sebagai motivasi, (d) Kasih sayang yang tulus, (e) Mendidik dengan keteladanan.
2. Pendidik
muslim memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan berbagai aspek dalam diri
anak, terutamanya untuk membentuk pribadi anak yang berakhlak mulia.
Tugas-tugas pendidik muslim itu sendiri yaitu (1) Sebagai pengajar, (2) Edukator,
(3) Pemimpin (managerial), mengembangkan perilaku moral pada anak (4)
mengajarkan sopan santun kepada anak (5) memahami bakat dan mengembangkan
kreativitas (6) menumbuhkan dan meningkatkan minat baca anak (7) mengurangi kemanjaan dan mendidik anak
dengan baik.
Sebagai
tauladan yang baik pendidik penting untuk memiliki sifat-sifat yang baik dalam
melakukan pengajaran dan bimbingan diantaranya yaitu, (1) sabar (2) lemah lembut (3) luwes dalam
bertindak dan (4) bersikap moderat.
3. Berbagai
permasalahan muncul dalam mendidik anak, maka dari itu sebagai pendidik harus
mampu untuk menyikapi anak yang
bermasalah. Sikap-sikap yang sering dimunculkan oleh anak yang bermasalah
tersebut misalnya (1) Anak yang malas (2) Anak yang suka berbohong, (3) rasa takut
pada anak, (4) Jika prestasi anak menurun, (5) anak yang sulit belajar, (6)
anak yang sulit bergaul dengan teman sebaya. Permasalahan sikap yang ditunjukan
oleh anak, menuntut pendidik untuk menyikapi dan mengatasi permasalahan
tersebut dengan baik.
B.
Saran
Sejalan dengan kesimpulan di atas,
maka penulis merumuskan saran sebagai berikut.
1. Pendidik
harus benar-benar mampu memahami karakteristik setiap anak,memahami irama perkembangannya yang berbeda-beda.
Sehingga dalam mendidik anak harus penuh dengan kesabaran, kasih sayang
yang tulus, serta perhatian.
Mendo’akan
anak adalah hal yang sangat membantu karena anak adalah ciptaan Allah swt.
paling sempurna, maka ebagai pendidik harus mendoakan anak didiknya agar
senantiasa menjadi anak yang shalaeh dan shalehah.
2. Pendidik
hendaknya memiliki sifat-sifat yang baik yang patut ditiru anak ketika
menjalankan tugasnya sebagagai
pendidik.
3. Pendidik
hendaknya mampu menyikapi setiap permasalahan anak baik ketika
dalam proses belajar ataupun di luar proses pembelajaran.
4. Pendidik
hendaknya memberikan contoh-contoh yang baik dan bersifat positif, sehingga anak
akan tumbuh dan berkembang dengan baik serta memiliki perilaku, moral yang baik
pula.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-‘ALIM Alqur’an dan Terjemahannya
Edisi Ilmu Pengetahuan. 2011. Almizan Publishing
house. Bandung
Arham. (2013). Pengertian Muslim. [Online]. Tersedia: (http://www.diatercinnta.pun.bz/2013/9/pengertian-muslim.xhtml)
Mustaqim abdul.(2005).menjadi orang tua bijak.Al-Bayan Mizan:
Bandung
Rishelcha. (2013). Tugas Pendidik.
[Online]. Tersedia: (http://www.rishelcha.blogspot.com/2013/03/tugas-pendidik.html)
Zarman Wendi.(2012).Ternyata Mendidik Anak Cara Rasulullah itu
mudah & lebih efektif.Ruang Kata:Bandung.
Langganan:
Komentar (Atom)
