Laman

Sabtu, 17 November 2012

kegiatan pembelajaran mengembangkan kognitif anak untuk kelas B


Hana Hapipah
1103063
PGPAUD 3B

Kegiatan Pembelajaran
Bidang Pengembangan Kognitif
KELOMPOK B

KOMPETENSI DASAR
Anak mampu memahami konsep sederhana, memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

HASIL BELAJAR
Anak dapat memahami bilangan

INDIKATOR
17. Membuat bentuk-bentuk geometri

KEGIATAN
Bernyanyi, menggunting, menempel bentuk lingkaran, segitiga dan persegi

METODE
Bernyanyi, demonstrasi, pemberian tugas

ALAT DAN BAHAN
Lagu, gunting, kertas HVS kosong, lem, bentuk-bentuk lingkaran segitiga dan persegi yang sudah dibuat oleh guru dalam kertas HVS

LANGKAH-LANGKAH
1.     Guru memperkenalkan bentuk-bentuk geometri
2.     Guru mengajarkan anak bernyanyi dengan lagu:
“segitiga dan lingkaran bersatu .. bersatu
  Jadi bapak tani jadi bapak tani tersenyum .. tersenyum
  segitiga dan lingkaran bersatu .. bersatu
  jadi bentuk es krim jadi bentuk eskrim mmm enak .. mmm enak
  segitiga dan persegi bersatu .. bersatu
  jadi bentuk rumah jadi bentuk rumah nyamannya .. nyamannya”
3.     Guru menjelaskan dan mendemonstasikan cara menggunting dan menempel
4.     Anak menggunting bentuk geometri yang telah disediakan
5.     Anal menempel bentuk bentuk geometri yang sudah digunting
6.     Anak menyatukan bentuk bentuk geometri sesuai dengan kreasinya. Misalnya seperti pada lagu tadi

PENILAIAN
Observasi, penugasan dan unjuk kerja

kegiatan pembelajaran dalam mengembangkan kognitif anak kelas A


Hana Hapipah
1103063
PGPAUD 3B

Kegiatan Pembelajaran
Bidang Pengembangan Kognitif
KELOMPOK A

KOMPETENSI DASAR
Anak mampu mengenal berbagai konsep sederhana dalam kehidupan sehari-hari

HASIL BELAJAR
Anak dapat mengenal bilangan.

INDIKATOR
11. Menunjuk 2 kumpulan benda yang sama jumlahnya, yang tidak sama, lebih banyak dan lebih sedikit.

KEGIATAN
Melatih motorik halus anak, Anak membedakan jumlah benda yang ada didalam wadah sama, tidak sama, lebih banyak, lebih sedikit, dan melatih kognitif anak

METODE
Demonstrasi, pemberian tugas

ALAT DAN BAHAN
Mangkok plastik, kertas angka-angka, permen, kancing,

LANGKAH-LANGKAH
1.     Guru membagi anak menjadi beberapa kekompok
2.     Guru menempelkan kertas angka pada setiap mangkok
3.     Anak bertugas untuk memasukan salah satu bahan yang telah disediakan kedalam mangkok, misalnya memasukan permen
4.     Anak mengidentifikasi isi mangkok yang jumlahnya sama, tidak sama, lebih sedikit, dan lebih banyak
5.     Anak mengulang kegiatannya lagi dengan bahan yang lain
6.     Guru memberikan pujian kepada anak

PENILAIAN
Observasi, penugasan dan unjuk kerja

Jumat, 16 November 2012

KOPMA atau TARI ????

loyalitas itu memang susah untuk dilaksanakan ketika kita harus memilih 2 organisasi yang harus dikerjakan.
KOPMA ataukah TARI ?????
hah bingung -,-
tapi yaaa apapun, tetep loyalitas yang tinggi untuk KOPMA,
bukan maksud mengabaikan tari, tapi sepertinya KOPMA memiliki tantangan yang lebih besar dan saya dihargai di keluarga KOPMA !
semangat untuk proyek didepan mata ....
DIKSARKOP XXII ......
coming soon .... !!!!!!! ^_^

konsep dan pelaksanaan bimbingan konseling



  1. PENGERTIAN KONSEP
Secara umum konsep adalah suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri umum sekelompok objek, peristiwa atau fenomena lainnya. Woodruff (dalam Amin, 1987), mendefinisikan konsep sebagai berikut: (1) suatu gagasan/ide yang relatif sempurna dan bermakna, (2) suatu pengertian tentang suatu objek, (3) produk subjektif yang berasal dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda melalui pengalamannya (setelah melakukan persepsi terhadap objek/benda).
Dengan menggunakan definisi pembentukan konsep, Woodruff menyarankan bahwa suatu pernyataan konsepsi dalam suatu bentuk yang berguna untuk merencanakan suatu unit pengajaran ialah suatu deskripsi tentang sifat-sifat suatu proses, struktur atau kualitas yang dinyatakan dalam bentuk yang menunjukkan apa yang harus digambarkan atau dilukiskan sehingga siswa dapat melakukan persepsi terhadap proses, struktur atau kualitas bagi dirinya sendiri Dari penjelasan diatas, berarti konsep merupakan suatu pernyataan yang terdiri dari informasi utama atau sentral sebagai solusi dari persoalan yang ditemui.  Selain dari informasi utama konsep juga bisa dijadikan sebagai pedoman, latar belakang, dan rancangan dalam membuat sesuatu. Dengan kata lain, pengertian konsep adalah sebuah dasar atau pedoman dalam melakukan suatu tindakan sehingga memperoleh hasil yang lebih baik.

  1. KONSEP BK
Bimbingan dan konseling berasal dari dua kata yaitu bimbingan dan konseling. Bimbingan secara bahasa adapat diartikan sebagai menunjukkan, menentukan, mengatur, mengemudikan, memberi saran, memimpin, mengadakan atau mengistruksikan.
Perbedaan B dan K
Bimbingan
Konseling
langsung dan tidak langsung
langsung
preventif, kuratif, preservatif
kuratif
individu dan kelompok
individu
tidak harus konselor
orang profesional (konselor)











Pengertian BK sendiri adalah proses memberikan bantuan dari konselor kepada individu yang mempunyai masalah agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jadi konsep BK adalah Konsep BK  adalah rancangan yang disusun sedemikian rupa sebagai pedoman yang digunakan untuk melakukan proses bimbingan konseling.
  1. PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING
Dalam pelaksanaan BK ini harus secara sistematis, terarah, terpadu. Dimana dalam pelaksanaanya yaitu perencanaan, pengumpulan data dan penyusunan program harus saling berkesinambungan satu sama lain. Pelaksanaan Bimbingan Konseling ini terdiri dari 3 bentuk, yaitu :
1.     Perencanaan
2.     Pengumpulan data
3.     Penyusunan program
4.     Koordinasi
5.     Penyediaan Fasilitas

1.     Perencanann
Dalam pelaksanaan bimbingan Konseling, sebelum konselor melakukan/ melaksanakan  kegiatan/ program, maka konselor itu sendiri harus membuat perencanaan terlebih dahulu. Karena dengan adanya perencanaan maka program yang di bentuk akan terarah.
2.     Pengumpulan Data
Ada 3 jenis pengumpulan data, diantaranya;
A.    Jenis Data
Meliputi:
a.      Data Pribadi
·       Latar Belakang Keluarga dan Sosial
·       Kesehatan dan perkembangannya
·       Kemampuan dasar
·       Kemampuan khusus
·       Kepribadian
·       Prestasi belajar
·       Kegiatan di luar rumah
·       Rencana masa depan
b.     Data Lingkungan
B.    Sumber Data
a.      Siswa
b.     Orang tua
c.      Guru
d.     Kepala sekolah
e.      Teman
f.      Tetangga, dll
C.    Teknik Pengumpulan Data
a.      Melalui Tes
·       Tes kecerdasan
·       Tes kepribadian
·       Tes bakat
·       Tes minat
b.     Non Tes
·       Metode Observasi
·       Metode Angket/Kuisioner
·       Metode wawancara
·       Sosiometri (kedudukan anak dalam hubungan sosial, intensitas, populeritas)
·       Catatan anekdot (anekdotal record)
·       Pemeriksaan kesehatan (dibuat format)
·       Home visit
·       Case conference
Langkah:
                  Identifikasi kasus
                  Pengumpulan data
                  Analisis data
                  Diagnosis
                  Prognosis
3.     Penyusunan program
Program Bimbingan Konseling Anak Usia Dini terdiri 5 bagian, yaitu:
1.     Parenting
2.     Konseling
3.     Field trip
4.     Penempatan kegiatan ekstrakulikuler
5.     leaflet

  1. Koordinasi
Koordinasi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari suatu pelaksanaan,termasuk dalm bimbingan konseling. Dalam melaksanakan peaksanaan bimbingan dan konseling koorddinasi harus dilakukan baik antar konselor, konselor dengan guru kelas, konselor dengan kepala sekolah, konselor dengan orangtua. Hal ini bertujuan agar setiap bimbingan dapat dilakukan dimana saja dan oleh siapa saja, artinyan tujuan bimbingan dan konseling dapat dicapai lebih optimal.
  1. Penyedian fasilitas
Fasilitas yang dibutuhkan dalam melakukan bimbinan konseling terbagi dua yaitu fasilitas untuk konselor dan untuk anak yang dikonselor
Fasilitas pertama adalah ruangan BK. Ruang Bk haruslah ruangan yang memungkinkan untuk melakukan bimbingan dan konseling. Tata letak dan warna cat ruangan akan sangat mempengaruhi minat anak atau konseli untuk konseling.
Selain ruangan adapula alat untuk menyimpan informasi atau data seperti komputer.


PENGELOLAAN (Tepat & Baik)
pelaksanaan bimbingan konseling  yang kedua yaitu pengelolaan yang baik,agar pelaksanaan pengelolaan bimbingan konseling  tepat dan baik kita harus memahami dan mengaplikasikan cara kita mengelola, adapun dalam mengelola bimbingan konseling ada hal penting yang harus kita ketahui yaitu,perlunya organisasi bimbingan dan konselingi, uraian tugas atau mekanisme kerja organisasi,serta pengawasan.
  1. Organisasi
Organisasi bimbingan dan konseling sekolah merupakan organisasi formal, pola organisasi yang dipilih harus didasarkan kesepakatan bersama diantara pihak terkait di sekolah, dilanjutkan usaha perencanaan untuk mencapai tujuan, pemberian tugas, pengendalian proses dan penggunaan sumber sumber bimbingan yang disebut administrasi bimbingan dan konseling .organisasi harus bekerja sama antar sesama anggota untuk mencapai tujuan bersama, dengan tanggung jawab sesuai tugasnya. Dasar organisasi, bimbingan dan konseling di sekolah adalah adanya kesepakatan bersama antara guru sebagai  konselor dan kepala sekolah sebagai koordinator.

  1. Uraian tugas
Adapun uraian tugas kerja organisasi dalam pengelolaan bimbingan dan konseling, di dasarkan pada jabatan tugas. Kepala sekolah mempunyai jabatan tugas  untuk mengkoordinasi seluruh kegiatan pembelajaran,serta bimbingan di sekolah, menyediaakan dan melengkapi sarana prasarana di sekolah, melaksanakan supervisi terhadap pelaksaan bimbingan dan konseling di sekolah. Konselor atau Guru pembimbing mempunyai jabatan tugas, yaitu merencanakan program bimbingan konseling bersama koordinator BK, merumuskan persiapan kegiatan bimbingan dan konseling, melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik, menampilkan pribadi sebagai figur moral yang berakhlak mulia .
  1. Pengawasan
setelah memahami organisasi bimbingan konseling dan mekanisme kerja organisasi , kita pun harus melaksanakan dan memahami pengawasan. Pengawas dapat melakukan pengawasan dan pembinaan apakah program bimbingan dan konseling telah dilaksanakan sesuai program, pengawas hendaknya memberikan dorongan dan saran saran bagaimana program program yang belum terlaksana  dapat dilakukan.  Pengawas hendaknya berperan sebagai pusat informasi pengembangan mutu pendidikan serta evaluator terhadap pemaknaan hasil pengawasan . Pengawas harus mengembangkan diskusi bersama kepala sekolah dan konselor atau guru dengan memberikan dorongan berkenaan dengan dukungan untuk mencapai program yang terlakana baik
  1. Sarana prasarana
Pengelolaan yang baik dan tepat dalam perawatan sarana dan prasarana ini adalah penyediaan fasilitas tau alat yang menunjang tercapainya pelaksanaan konsep dari bimbingan. Dalam prasarana ini penyadiaan dan perawatan  ruangan yang nyaman, adanya computer untuk penyimpan data anak untuk menjaga asas kerahasiaan.
  1. Kerja sama
Pengelolaan kerjasama yang dilakukan oleh konselor bersama orang tua dan orang-orang yang bersangkutan seperti melakukan pertemuan dangan orang tua murid boleh secara formal, informal dan lain-lain

KARAKTERISTIK ANAK USIA DINI


KARAKTERISTIK ANAK USIA DINI
Pada pendidikan anak usia dini, haruslah mengetahui siapa anak yang akan dihadapi dan bagaimana karakteristiknya yang dimiliki mereka. Batasan tentang masa anak ditemukan cukup bervariasi. Dalam pandangan mutakhir yang lazim dianut di Negara maju, istilah anak usia dini (early childhood) adalah anak yang berkisar antara usia 0-8 tahun. Namun, apabila dilihat dari jenjang pendidikan yang berlaku di Indonesia maka yang termasuk dalam kelompok anak usia dini adalah anak baru lahir sampai anak-anak usia Taman Kanak-kanak (kindergarden), yaitu sampai usia 6 tahun.
Anak adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan sangat pesat dan sangat fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Ia memiliki dunia dan karakteristik sendiri yang jauh berbeda dari dunia dan karakteristik orang dewasa. Ia sangat aktif, dinamis, antusias dan hampir selalu ingin tahu terhadap apa yang dilihat dan didengarkannya, serta seolah-oleh tidak pernah berhenti belajar. Menurut pandangan psikologis anak usia dini memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan anak lain yang berada di atas usia 8 tahun. Beberapa pakar mengemukakan mengenai karakteristik anak usia dini.
1.     Richard D. Kelloguh (1996)
a.      Anak bersifat egosentris
Anak cenderung melihat dan memahami sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Hal ini dapat dilihat dari perilakunya seperti masih berebut mainan, menangis bila menghendaki sesuatu yang tidak dipenuhi oleh orang tuanya atau melaksanakan sesuatu terhadap orang lain.  Karakteristik ini terkait dengan perkembangan kognitifnya yang menurut Piaget disebutkan bahwa anak usia dini sedang berada pada fase transisi dan fase praoperasional (2-7 tahun) ke fase operasional konkret (7-11 tahun). Keterampilan yang sangat diperlukan dalam mengurangi egosentris di antaranya adalah dengan mengejarkan anak untuk mendengarkan orang lain serta memahami dan berempati pada anak.
b.     Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar
Menurut persepsi anak, dunia ini dipenuhi hal-hal yang menarik dan menakjubkan. Hal ini menimbulkan rasa keingintahuan anak yang tinggi. Rasa keingintahuan sangatlah bervariasi tergantung dengan apa yang menarik perhatiannya. Sebagai contoh anak tertarik dengan benda yang menimbulkan akibat dari pada benda yang terjadi dengan sendirinya. Dalam Brooks and Brooks (1993:29) dikemukakan bahwa keuntungn yang dapat diambil dari rasa keingintahuannya adalah dnegan menggunakan fenomena atau kejadian yang tidak biasa. Kejadian yang tidak biasa tersebut dapat menimbulkan ketidakcocokan kognitif sehingga dapat memancing keinginan anak untuk tekun untuk memecahkan permasalahan atau ketidakcocokan tersebut. Meskipun terkadang sulit dikenali hubungan di antara ketidaksesuaian tersebut namun hal ini dapat membantu mengembangkan motivasi anak untuk belajar sains. Untuk membantu mengembangkan  kemampuan anak dalam mengelompokkan dan memahami dunianya sendiri, guru perlu untuk menemukan masalahnya.
c.      Anak adalah mahluk sosial
Anak senang diterima dan berada dengan teman sebayanya. Mereka senang bekerja sama dalam membuat rencana dan menyelesaikan pekerjaannya. Mereka secara bersama saling memberikan semangat dengan sesame temannya. Anak membangun konsep diri melalui interaksi social di sekolah. Ia akan membangun kepuasan melalui penghargaan diri ketika diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan temannya. Untuk itu pembelajaran dilakukan untuk membantu anak dalam perkembangan pernghargaan diri. Hal ini dapat dilaksananan dengan cara menyatukan strategi pembelajaran social seperti bekerja sama simulasi guru dari teman sebaya dan pembelajaran silang usia.
d.     Anak bersifat unik
Anak merupakan individu yang unik dimana masing-masing memiliki bawaan minat, kapabilitas dan latar belakang kehidupan yang berbeda satu sama lain. Disamping memiliki kesamaan, menurut Bredekamp (1987), anak juga memiliki keunikan tersendiri dalam gaya belajar, minat dan latar belakang keluarga. Meskipun terdapat pola urutan umum dalam perkembangan anak yang dapat diprediksi, namun pola perkembangan dan belajarnya tetap memiliki perbedaan satu sama lain.
e.      Anak umumnya kaya dengan fantasi
Anak senang dengan hal-hal yang bersifat imajinatif, sehingga pada umumnya ia kaya dengan fantasi. Anak dapat bercerita melebihi pengalaman-pengalaman aktualnya atau kadang bertanya tentang hal-hal gaib sekalipun. Hal ini disebabkan imajinasi anak berkembang melebihi apa yang dilihatnya. Sebagai contoh, ketika anak melihat gambar sebuah robot, maka imajinasinya berkembang bagaimana robot itu berjalan dan bertempur dan seterusnya. Jika dibimbing dengan beberapa pertanyaan, maka ia dapat menceritakan melebihi apa yang mereka dengan dan lihat sesuai dengan imajinasi yang sedang berkembang pada pikirannya. Cerita atau dongeng merupakan kegiatan yang banyak digemari oleh anak sekaligus dapat melatih mengembangkan imajinasi dan kemampuan bahasa anak.
f.      Anak memiliki rentan daya konsentrasi pendek
Pada umumnya anak sulit untuk berkonstrasi pada suatu kegiatan dalam jangka waktu yang lama. Ia selalu cepat mengalihkan perhatian pada kegiatan lain, kecuali memang kegiatan tersebut selain menyenangkan juga bervariasi dan tidak membosankan. Menurut Berg (1988) disebutkan bahwa sepuluh menit adalah waktu yang wajar bagi anak usia sekitar 5 tahun untuk dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara nyaman. Daya perhatian yang pendek membuat ia masih sangat sulit untuk duduk dan memperhatikan sesuatu untuk jangka waktunya yang lama, kecuali terhadap hal-hal yang menyenangkan. Pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan yang bervariasi dan menyenangkan sehingga tidak membuat anak terpaku di tempat dan menyimak dalam jangka waktu yang lama.
g.     Masa paling potensial untuk belajar
Masa anak usia dini disebut masa golden age atau magic year, NAEYC (1992) mengemukakan bahwa masa-masa awal kehidupan tersebut sebagai masa-masanya belajar dengan slogan “Early Years are Learning Years”. Hal ini disebabkan bahwa selama rentan waktu usia dini anak mengalami berbagai pertumbuhan dan perkembangannya yang sangat cepat dan pesat pada berbagai aspek. Pada periode ini hampir seluruh potensi anak mengalami masa peka untuk tumbuh dan berkembang secara cepat dan hebat. Oleh karena itu pada masa ini anak sangat membutuhkan stimulasi dan rangsangan dari lingkungannya. Pembelajaran pada periode ini merupakan wahana yang memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak guna mencapai tahapan sesuai dengan tugas perkembangannya.
h.     Peniru ulung
Anak usia dini merupakan seorang peniru yang ulung, pada masa ini anak melihat dan mendengar apapun dan mengaplikasikannya tanpa mempertimbangkan baik-tidak baik apa yang ditirukannya. Hal ini menuntut agar orang yang ada di sekeliling lingkungan anak haruslah bersikap wajar (sesuai) dan menjadi contoh yang baik bagi anak, sehingga dari peniruannya yang baik oleh anak maka akan menjadi suatu pembiasaan.
2.     Maria Montessori (dalam Hurlock, 1978) berpendapat bahwa usia 3-6 tahun merupakan periode sensitif atau masa peka pada anak, yaitu suatu periode di mana suatu fungsi jtertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Misalnya, masa peka untuk berbicara pada periode ini tidak terpenuhi maka anak akan mengalami kesukaran dalam berbahasa untuk periode selanjutnya.
Selain pendapat di atas, Maria Montessor juga menyatakan bahwa masa sensitif anak usia ini mencakup sensitiif terhadap keteraturan lingkungan, mengekplorasi lingkungan dengan lidah dan tangan, sensitif untuk berjalan, sensitif terhadap objek-objek kecil dan detail, serta terhadap aspek-aspek sosial kehidupan.
3.     Erik H. Erikson (dalam Helms & Turner, 1994) yang memandang periode usia 4-6 tahun sebagai fase sense of initiative, pada periode ini anak harus didorong untuk mengembangkan prakarsa, seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Jika anak tidak mendapat hambatan dari lingkungannya maka anak akan mampu mengembangkan prakarsa dan daya kreatifnya, serta hal-hal yang produktif di bidang yang disenanginya. Guru yang selalu menolong , memberi nasihat, dan membantu mengerjakan sesuatu padahal anak dapat melakukannya sendiri, menurut Erikson dapat membuat anak tidak mendapatkan kesempatan untuk berbuat kesalahan atau belajar dari kesalahan itu. Apabila lingkungan mendukung proses berprakarsanya maka anak dapat melaksanakan dan membuktikan prakarsanya dengan senang hati. Sebaliknya, apabila lingkungan tidak memberikan dukungan maka prakarsa itu tidak dapat terwujud dan cenderung membuat anak tidak mau mencobanya lagi.
4.     Froebel (Roopnaire, J.L & Johnson, J.E., 1993) masa anak merupakan suatu fase yang sangat penting dan berharga dan merupakan masa pembentukan dalam periode kehidupan manusia. Masa anak usia dini sering dipandang sebagai masa emas (golden age) bagi penyelenggara pendidikan. Masa emas anak tersebut merupakan fase yang sangat fundamental bagi perkembangan individu karena pada fase inilah terjadinya peluang yang sangat besar untuk pembentukan dan pengembangan pribadi seseorang. Menurut Froebel jika orang dewasa mampu menyediakan suatu “taman” yang dirancang sesuai dengan potensi dan bawaan anak maka anak akan berkembang secara wajar.
5.     Jean Piaget dan Lev Vygotsky (kelompok Konstruktivis), anak bersifat aktif dan memiliki kemampuan untukmembangun pengetahuannya. Secara mental anka mengkonstruksi pengetahuannya melalui refleksi terhadap pengalamannya. Anak memperoleh pengetahuan bukan dengan cara menerima secara pasif dari orang lain, melainkan dnegan cara membangun pengetahuannya sendiri secara aktif melalui interaksi dengan lingkungannya. Anak adalah mahluk belajar aktif yang dapat mengkreasi dan membangun pengetahuannya.
Dalam kehidupan sehari-hari dapat disaksikan anak tidak takut untuk mencoba dan menemukan sesuatu. Apabila anak sedang bermain pasir, anak akan terus mencoba memasukan pasir dari satu tempat ke tempat lain. Apabila pasir di suatu tempat itu penuh, ia akan menumpahkannya dan mengisinya kembali. Aktivitas seperti itu terus diulang seolah anak tidak lelah melakukannya. Ketika bermain seperti itu, anak mencoba mengamati dan membangun pengetahuannya sendiri.